Prinsip & Komponen Daya Lenting (Resilience) PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Ibnu Faizal   


Oleh: Edy Setyawan


PENDAHULUAN

Daya Lenting (Resilience) adalah suatu sistem untuk kembali lagi ke kondisi awal/semula setelah mengalami gangguan baik itu dengan cara bertahan ataupun beradaptasi dengan perubahan. Di dalam suatu ekosistem dimana pada kasus ini adalah Ekosistem Terumbu Karang membutuhkan suatu sistem yang dinamakan sistem daya lenting yang dapat membuat ekosistem tersebut ketika mendapat gangguan dari luar yang menyebabkan kesehatannya terganggu dapat bertahan dan pulih kembali sehingga saat ekosistem tersebut dapat kembali normal.
Ada 2 (dua) komponen di dalam daya lenting yaitu:
š(a) Kemampuan untuk menyerap atau menahan dampak tekanan/stres (Resistance) ,dan
(b) Kemampuan untuk pulih (Recovery)

Untuk tipe daya lenting dibagi menjadi 2 (dua) yaitu secara biologis dan sosial
A. Biologis
Daya Lenting Biologis adalah melihat kemampuan dari terumbu karang itu sendiri untuk bertahan/pulih kembali dari gangguan yang ada disekitarnya. ada beberapa syarat yang diperlukan oleh terumbu karang untuk memiliki daya lenting secara biologis yaitu pada saat rekrutmen atau saat tumbuh kembali. Rekrutmen adalah saat suatu karang yang mati karena gangguan tumbuh kembali dalam proses rekrutmen yaitu tumbuh di tempat lain (berbeda dengan tempat sebelumnya). Diperlukan kriteria-kriteria yang dapat menjamin proses rekrutmen terumbu karang bisa berjalan dengan baik seperti adanya ketersediaan substrat baru untuk larva karang baru menempel dan kemudian tumbuh. Kualitas air yang baik juga diperlukan seperti tersedianya suplai makanan, arus yang tidak terlalu kencang, sampainya cahaya matahari yang berarti perairan tersebut tidak keruh. Terakhir adalah adanya biota herbivora disekitar wilayah Rekrutmen tersebut untuk mengontrol jumlah alga yang tumbuh diwilayah tersebut karena alga merupakan kompetitor karang dalam proses rekrutmen. Sedangkan untuk tumbuh kembali, terumbu karang membutuhkan perbaikan dan pertumbuhan serta kompetitor yang tidak menganggu proses karang tersebut tumbuh kembali ditempat yang sama, untuk daya lenting tumbuh kembali, faktor dari terumbu karang itu sendiri lebih banyak berperan dalam keberhasilannya.

Untuk melihat apakah disuatu ekosistem terumbua karang tersebut proses daya lenting berjalan dengan baik dapat dilihat dari perhitungan Tutupan Karang Keras yang tinggi, Keanekaragaman Tinggi, Rendahnya gangguan serta penyakit, serta rentang (ukurang) koloni karang yang luas/lebar.

B. Sosial
Daya Lenting secara Sosial berarti adanya jaminan dari penduduk atau masyarakat sekitar untuk tidak adanya gangguan dari faktor manusia yang dapat menganggu ekosistem terumbu karang pada saat proses daya lenting berjalan untuk ekosistem tersebut kembali menjadi normal. Apablila faktor gangguan dari manusia dapat ditekan seminimal mungkin maka akan mengurangi tekanan dari terumbu karang itu sendiri sehingga persentase untuk Resistance dan Recovery kembali akan lebih tinggi.


MODEL DAYA LENTING

Model Daya Lenting yang dikeluarkan oleh TNC ini adalah sebagai acuan/referensi yang diperlukan untuk suatu wilayah/daerah yang ingin menetapkan Daerah Perlindungan Laut (DPL)/ Marine Protected Area (MPA) ada 4 (empat) komponen yang diperlukan:












1. Representasi dan Replikasi
Representasi berarti Keterwakilan dari suatu ekosistem/habitat sebagai contoh daerah tersebut memiliki karakteristik karang tepi, karang penghalang dsb berdasarkan karakteristik yang tersedia di wilayah tersebut dan memiliki pengulangan (minimal 3 area) dengan memiliki karakteristik yang serupa. misal, disuatu daerah yang akan dikaji memiliki minimal 3 tipe karang dengan tipe karang tepi atau memiliki 3 area yang memiliki tipe karang penghalang. Hal ini dimaksudkan sebagai penyebaran resiko dari suatu area tersebut, apabila satu area terganggu maka masih akan ada 2 (dua) area lagi yang bisa diamati/ dilanjutkan pengawasannya apabila satu area tersebut akhirnya tidak bisa diselamatkan.

2. Wilayah Kritis
Lokasi yang strategis untuk suatu ekosistem/habitat dimana dilokasi tersebut diketahui sebagai lokasi pemijahan atau refugia pemijahan dimana apabila wilayah tersebut terjaga maka sumber larva akan tersedia.

3. Konektivitas
Faktor pendukung kehidupan ekosistem/habitat (oseanografi). mengetahui aliran arus sebagai transport nutrien, upwelling, kecerahan di suatu daerah yang saling berkaitan antara suatu tempat dengan tempat lainnya.

4. Pengelolaan
Mengontrol ancaman dan mengurangi tekanan dari manusia merupakan faktor penting untuk menjamin karang sehat menghadapi perubahan iklim. Terjaminnya terumbu karang dari ancaman serta tekanan tersebut akan meningkatkan persentase/jumlah rekrutmen serta pemulihan dari terumbu karang itu. Elemen-elemen yang dibutuhkan dalam proses pengelolaan agar dapat berjalan dengan baik seperti:
a. Komunikasi yang sepaham dengan masyarakat, menemukan solusi dari masalah yang ada dan apa yang diinginkan oleh masyarakat
b. Evaluasi dari tiap program yang sudah dilaksanakan untuk pembelajaran masyarakat kedepannya
c. Pengelolaan disesuaikan dengan keadaan suatu wilayah dimana faktor kearifan lokal juga harus diperhatikan dalam penentapan suatu program/peraturan
d. Pendekatan personal atau kepada kelompok masyarakat untuk merangkul seluruh masyarakat dan mensosialisasi suatu program kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berujung konflik/penolakan.


IDENTIFIKASI DAYA LENTING

1. Ekologi

Rekrutmen
Proses Rektrumen sangat dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor seperti proses fisik perairan yaitu arah arus dan upwelling, kelimpahan larva dalam suatu perairan, perilaku larva yaitu pola migrasi dan gerakan terhadap arus, ketersediaan substrat untuk menempel, dan faktor ekologi yang mempengaruhi ketahanan karang dalam proses pertumbuhannya seperti predasi, kompetisi dan suplai makanan.

Herbivor
Keberadaan biota-biota herbivor di suatu ekosistem terumbu karang penting adanya sebagai pengontrol pertumbuhan alga. beberapa herbivora terumbu karang yang terkenal seperti parrotfish (Family Scaridae), surgeonfish (Acanturidae), rabbitfish (Siganidae), batfish, and long-spined urchins (Diadema spp.) sangat berpengaruh terhadap kesehatan karang. Harus adanya keseimbangan jumlah antara karang dengan alga. jumlah alga yang berlebih akan mengancam keberadaan suatu terumbu karang, karena sekali alga sudah berkembang, akan susah untuk menghentikan trend tersebut. dibutuhkan regulasi atau peraturan yang jelas dan ketat terhadap penangkapan ikan di suatu wilayah terutama ikan-ikan herbivor karena apabila jumlah dari mereka sudah berkurang akan berdampak pada tidak terjaganya keseimbangan jumlah karang dengan alga.

2. Biologi

Perbedaan Genetik
Ada 3 faktor genetika yang berpengaruh terhadap daya lenting suatu karang yaitu:
a. Jaringan Pigmen Fluorescent: jaringan ini bermanfaat sebagai filter dari sinar UVC yang bermanfaat sebagai sistem pertahanan dari perubahan suhu yang bisa mengakibatkan pemutihan. semakin banyak jumlah jaringan ini dalam suatu karang maka akan meningkatkan ketahanan dirinya.
b. Integrasi antar koloni: kerapatan antar koloni satu dengan yang lainnya juga berpengaruh, apabila jarak antar koloni berdekatan maka apabila suatu koloni mengalami gangguan/penyakit akan menyebar lebih cepat ke koloni lainnya dibandingkan dengan karang dengan jarak antar koloni yang renggang, maka penyebaran penyakit antar koloni akan lebih lambat
c. Ketebalan Jaringan: Jaringan yang lebih tebal akan melindungi Zooxanthellae dari intesitas cahaya yang berlebih, sehingga memiliki kecenderungan untuk lebih resist.

Perbedaan Spesies
Perbedaan antar spesies karang berpengaruh terhadap daya toleran suatu karang terhadap perubahan suhu atau gangguan. genus karang seperti  Porites, Favia dan Goniastrea yang memiliki bentuk pertumbuhan massive  akan lebih kuat bertahan terhadap perubahan suhu dibandingkan spesies Acropora, Milepora dan Stylophora.

3.Faktor Fisik

Pendinginan
Pendinginan berasal dari pencampuran dinginnya air di perairan dalam dengan panasnya air permukaan. daerah-daerah tempat pencampuran ini akan mempengaruhi kesuburan wilayah tersebut dilihat dari faktor fisik untuk terumbu karang.

Keteduhan
Daerah yang memiliki bukit tinggi seperti patch-patch dimana ada terumbu karang dibawahnya akan terlindung dari sinar matahari langsung sehingga tidak terekspos lama oleh sinar matahari. Keteduhan suatu wilayah akan membantu terumbu karang dari bahaya pemutihan.

Penyaringan
Banyaknya partikel yang berada dikolom air membantu untuk menangkal bahaya radiasi dari cahaya matahari sehingga membantu terumbu karang dari ancaman pemutihan. partikel-partikel tersebut bermanafaat sebagai penyaring cahaya matahari.

Toleransi terhadap Stress
Karang yang hidup diperairan dangkal dimana dipengaruhi oleh pasang-surut yang seringkali terekspos langsung ke permukaan memiliki tingkat toleransi lebih tinggi terhadap perubahan yang ekstrim oleh alam. karang yang hidup di daerah seperti ini memiliki kecenderungan bertahan lebih tinggi dibandingkan karang-karang yang hidup diperairan dalam yang tidak terbiasa dengan perubahan suhu secara ekstrim sehingga pada saat terjadi perubahan suhu didalam air, karang tersebut akan mudah terganggu dan mengalami pemutihan karang.


DAFTAR ACUAN:

REEF RESILIENCE AND CLIMATE CHANGE TRAINING WORKSHOP, Juni 2012, Bali-Indonesia

Maynard J, Wilson J, Campbell S, Mangubhai S, Setiasih N, Sartin J,Ardiwijaya R, Obura D, Marshall P, Salm R, Heron S, and Goldberg J. 2012. Assessing coral resilience and bleaching impacts in the Indonesian archipelago. Technical Report to The Nature Conservancy with contributions from Wildlife Conservation Society and Reef Check Indonesia. 62 pp.

Share
 

Add comment


Security code
Refresh