Manfaat Terumbu Karang dan Ancamannya PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Safran Yusri   

Oleh Kiki Anggraini


MANFAAT TERUMBU KARANG

Ekologi


A.  MANFAAT EKOLOGI

a.  Penunjang Kehidupan

Oleh karena terumbu karang merupakan suatu ekosistem, maka ia menunjang kehidupan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitar terumbu karang.  Dengan adanya terumbu karang maka tumbuhan dan hewan laut lainnya dapat tinggal, mencari makan dan berkembang biak di terumbu karang.

Contohnya hewan-hewan laut seperti lili laut, kerang, cacing, dan tumbuhan alga dapat menempel pada koloni karang keras.  Ikan-ikan dapat mencari makan dan bersembunyi dari incaran hewan pemangsa di balik koloni karang keras.


b.  Mengandung Keanekaragaman Hayati yang Tinggi

Jika hutan hujan tropis memiliki biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem lainnya dalam tingkatan spesies, terumbu karang memiliki biodiversitas tertinggi dalam tingkatan filum.  Terumbu karang juga  merupakan ekosistem dengan biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem pesisir dan laut lainnya, dalam unit skala tertentu.  Artinya dalam luas 1 km2 di wilayah terumbu karang mengandung lebih banyak spesies dibandingkan dengan 1 km2 di wilayah laut dalam.

Terumbu karang di Indonesia terkenal dengan kekayaan dari biodiversitasnya.  Dari sekitar 800 spesies karang keras yang berhasil diidentifikasi di dunia, sekitar 450 di antaranya ditemukan di Indonesia.  Spesies ikan karang  Indonesia sendiri mencapai lebih dari 2.400 spesies (Tomascik dkk., 1997).

Mengapa biodiversitas menjadi penting ?  Dengan memiliki biodiversitas yang tinggi, maka itu akan menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies.  Dengan adanya keanekaragaman genetik yang tinggi maka akan ditemukan banyak variasi dalam makhluk hidup sehingga tingkat ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan bertahan hidup suatu makhluk hidup dapat menjadi lebih tinggi.  Selain itu dengan begitu banyaknya spesies maka akan dapat dimanfaatkan untuk sebagai sumber pangan dan obat-obatan.


c.  Pelindung Wilayah Pantai

Terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau merupakan ekosistem yang saling berhubungan.  Terumbu karang-lah yang pertama kali menghalau ombak besar dari laut, agar tidak merusak daratan.  Kemudian ombak tiba di padang lamun maka energinya akan diperkecil lagi oleh daun-daun tumbuhan lamun.  Ketika ombak tiba di dekat pantai, maka akar dan batang pohon-pohon mangrove akan memperkecil lagi energi ombak, sehingga ombak tidak merusak pantai.  Dengan demikian kehidupan di sekitar pantai akan terlindung.  Terumbu karang bermanfaat dalam menghalangi pengikisan akibat energi ombak dan arus, sehingga masalah abrasi pantai akan lebih mudah diatasi.


d.  Mengurangi Pemanasan Global

Mungkin kita telah mengetahui bahwa hutan hujan tropis merupakan “paru-paru dunia” dimana menyerap gas CO2 hasil pembakaran sehingga mengurangi pemanasan pada bumi.  Terumbu karang pun dinilai memiliki peran yang sama, karena gas CO2 juga banyak diserap oleh air laut, dan selanjutnya melalui reaksi kimia dan bantuan karang, akan diubah menjadi zat kapur yang menjadi bahan baku terumbu (Muller-Parker & D’Elia, 1997).  Dalam proses yang disebut kalsifikasi ini, karang juga dibantu oleh zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di dalam jaringan tubuh karang).  Bagaimana hal itu dapat terjadi akan diterangkan di bagian Biolog Karang.

Ekonomi


B.  MANFAAT EKONOMI

a.  Sumber Makanan

Di terumbu karang kita dapat menemui banyak sekali jenis tumbuhan dan hewan laut yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber makanan.  Contohnya alga atau rumput laut yang dapat kita jadikan agar-agar.  Selain itu berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan teripang merupakan sumber protein.  Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat dapat diperoleh sekitar 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan sekitar 1.200 orang setiap tahunnya (Burke dkk., 2002).  Cesar (1996) menyebutkan 5 – 10 % hasil perikanan laut berasal dari terumbu karang.


b.  Sumber Bahan Dasar Untuk Obat-obatan dan Kosmetika

Beberapa jenis dari alga atau rumput laut, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk keperluan kosmetik (dijadikan sabun), dan juga untuk membalut kapsul obat.  Selain itu hewan laut seperti spon dan tunicata (Ascidian) yang ada di terumbu karang, diketahui memiliki senyawa kimia yang berguna untuk bahan antibiotika, anti radang, dan anti kanker.  Namun demikian, masih banyak potensi biota laut bagi industri obat dan bahan kimia, yang belum digali.


c.  Sebagai Objek Wisata

Terumbu karang juga memiliki keindahan karena adanya berbagai jenis karang, ikan, lili laut, teripang, kerang-kerangan, siput laut, dan lain sebagainya, yang membuat takjub para wisatawan.  Terumbu karang dapat menjadi objek wisata melalui kegiatan snorkeling, menyelam, ataupun hanya melihat keindahannya dari atas kapal yang dilengkapi kaca pada lantainya (glass bottom boat).


d.  Sebagai Sumber Mata Pencaharian

Adanya terumbu karang dapat menunjang perekonomian masyarakat di sekitarnya.  Masyarakat memiliki lapangan pekerjaan sebagai nelayan.  Apabila terumbu karang dikembangkan menjadi suatu objek wisata yang mengundang banyak turis, maka masyarakat dapat menjadi menjadi pemandu wisata, membuka usaha warung makanan, menyewakan penginapan, menyewakan kapal, menjual cenderamata ke turis, dan lain sebagainya.


e.  Sebagai Sumber Bibit Budidaya

Berbagai jenis ikan, teripang dan rumput laut, yang ada di terumbu karang, dapat dijadikan bibit untuk usaha budidaya.  Contohnya ikan kerapu, ikan kakap, rumput laut dari Marga Eucheuma dan Gracilaria, dan teripang dari Marga Holothuria.


Berdasarkan Riopelle (1995) (lihat Cesar (1996) , yang mengkalkulasi nilai ekonomi dari 1 km2 terumbu karang di wilayah Lombok Barat, dimana terumbu karangnya dimanfaatkan secara optimal (tidak saja untuk sumber perikanan dan pelindung pantai, namun juga untuk kegiatan wisata), sehingga diperkirakan 1 km2 terumbu karang di Lombok Barat bernilai sekitar US $ 1 juta.

Sosial


C.  MANFAAT SOSIAL

a.  Menunjang Kegiatan Pendidikan dan Penelitian

Terumbu karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan pendidikan untuk mengenal ekosistem pesisir, mengenal tumbuhan dan hewan laut, dan pendidikan cinta alam.  Antara lain karena terumbu karang ada di perairan yang dangkal, sehingga mudah dijangkau, dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga banyak biota laut yang dapat kita amati.

Selain itu terumbu karang juga berperan sebagai sarana penelitian.  Untuk melindungi terumbu karang dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan di terumbu karang, maka perlu adanya berbagai jenis penelitian.  Apabila kita ingin mejaga kelestarian terumbu karang, maka kita perlu meneliti faktor apa saja yang dapat mengancam kelestariannya, dan bagaimana memulihkan terumbu karang yang terganggu, sehingga kita dapat melakukan upaya-upaya yang diperlukan.  Demikian pula apabila kita ingin melindungi satu jenis spesies di terumbu karang maka kita perlu meneliti cara hidup spesies tersebut, apa saja yang dimakannya, bagaimana cara berkembang biaknya, dan lain sebagainya.


b.  Sebagai Sarana Rekreasi Masyarakat

Terumbu karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana rekreasi keluarga untuk melakukan aktivitas renang, dan lain sebagainya.


FAKTOR PENGANCAM KELESTARIAN TERUMBU KARANG

1.  FAKTOR DARI ALAM

Bencana alam dan kejadian lainnya yang terjadi secara alamiah dapat merusak terumbu karang.  Di bawah ini tercantum hal-hal yang dapat merusak terumbu karang yang terjadi secara alamiah, antara lain ialah:

1.  Gempa bumi berakibat memporak-porandakan terumbu karang

2.  Badai di laut seperti halnya tsunami berakibat menghancurkan terumbu karang

3.  Kenaikan suhu air laut dan kenaikan permukaan air laut pada tahap tertentu dapat mematikan karang

4.  Penyakit antara lain akibat infeksi oleh bakteri berakibat mematikan karang

5.  Serangan hewan pemangsa (Bulu Seribu) berakibat mematikan karang


2.  FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA

Secara Langsung


a.  Penangkapan Ikan Dan Biota Laut Lainnya Dengan Cara Yang Merusak

Contohnya menangkap ikan dan hasil laut lainnya dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida.  Bom yang dilemparkan di terumbu karang akan menghancurkan koloni karang dan biota laut lainnya di sekitar terumbu karang.  Menuang racun di sekitar terumbu karang untuk menangkap ikan hias juga akan mematikan karang dan biota laut lainnya. Terumbu karang adalah rumah bagi tumbuhan dan hewan laut, termasuk ikan-ikan.  Jika terumbu karang hancur maka ikan-ikan akan sulit ditemukan.


b.  Pengambilan Biota Laut Untuk Diperdagangkan

Pengambilan karang untuk diperdagangkan akan sangat merusak terumbu karang.  Jika karang tidak ada maka terumbu karang tidak akan terbentuk.  Pengambilan biota laut di terumbu karang, seperti kima yang menempel pada koloni karang juga akan merusak terumbu karang.  Oleh karena ketika mengambil biota laut mereka menginjak-injak dan mencongkel karang.  Pengambilan biota laut secara berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan jaring-jaring makanan di terumbu karang.

Contohnya jika kita banyak mengambil keong triton (Charonia tritonis), yakni sejenis keong laut yang ukurannya besar, untuk cenderamata, maka akan terjadi gangguan.  Keong laut ini memakan Bulu Seribu, maka jika ia habis diambil, maka Bulu Seribu tidak mempunyai pemangsa, maka jumlah Bulu Seribu menjadi banyak dan ini merugikan, karena Bulu Seribu memangsa karang.


c.  Pembuangan Sampah Ke Laut

Sampah yang dibuang dari tepi pantai, ataupun dari tengah laut (dari atas kapal misalnya), akan mencemari perairan laut, termasuk perairan di sekitar terumbu karang.  Sampah plastik dapat membunuh hewan-hewan laut, seperti Penyu Sisik, karena Penyu Sisik akan mengira sampah plastik sebagai makanannya, yakni ubur-ubur, sehingga sampah itu ditelannya dan mengakibatkan kematian.

Sampah juga akan mematikan karang, karena sampah menutupi dan menempel pada koloni karang keras, sehingga zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di jaringan tubuh si hewan karang) tidak dapat berfotosintesis, sehingga zooxanthellae dapat mati dan akhirnya si hewan karang juga dapat mati.  Selain itu sampah juga akan membuat lingkungan di sekitar laut menjadi buruk dan kotor.


d.  Kegiatan Wisata Yang Tidak Memperdulikan Lingkungan

Kegiatan wisata baik itu berupa kegiatan jalan-jalan di pantai, berenang, snorkeling, ataupun menyelam di terumbu karang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat merusak terumbu karang.  Wisatawan akan membuang sampah tidak pada tempatnya.  Mereka juga dapat menginjak-injak, menyentuh, membunuh, ataupun dan mengambil karang dan biota laut lainnya.


Tidak Langsung

a.  Pencemaran Dari Darat Ke Laut

Pencemaran dari darat dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir.  Sungai dari darat yang mengalir hingga ke muara dan berakhir di laut dapat membawa limbah (zat pencemar).  Secara umum limbah dapat dikategorikan menjadi limbah padat (yakni sampah plastik,kaleng, dll.), dan limbah cair (pupuk kimia, zat racun dari industri, dll.).  Pupuk kimia merupakan makanan bagi Bulu Seribu yang masih kecil, sehingga ketika ada banyak pupuk kimia mengalir ke laut, maka jumlah Bulu Seribu akan menjadi banyak dan menjadi hama yang akan memakan karang.


b.  Sedimentasi Dari Darat

Masuknya sedimen, sering disebut sebagai sedimentasi, yang biasanya dari arah darat ke laut, dapat merusak terumbu karang.  Sedimen seperti lumpur yang datang dari darat akan membuat perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh.  Akibatnya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuh polip karang akan sulit untuk berfotosintesis, dan dapat mati, akhirnya karang juga dapat mati.


c.  Pembangunan Di Wilayah Pesisir (Tepi Pantai)

Mengapa pembangunan di wilayah pesisir dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir dan laut ?  Oleh karena pembangunan di wilayah pesisir, seperti pembangunan pusat perbelanjaan dan pembangunan pemukiman, menghasilkan sedimen (adanya tanah, semen dan lumpur) yang akan mencemari perairan di sekitar terumbu karang.  Selain itu sampah yang dihasilkan dari pusat perbelanjaan dan pemukiman yang tidak dikelola dengan baik, juga akan mencemari wilayah terumbu karang.

Pembangunan di wilayah pesisir juga akan mengurangi areal lahan mangrove.  Mata rantai antara ekosistem hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang dapat terputus.  Hutan bakau dan padang lamun berjasa besar dalam mencegah pencemaran dari darat ke laut.


PELESTARIAN TERUMBU KARANG

Untuk dapat melestarikan terumbu karang sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, perlu adanya upaya-upaya pengelolaan terumbu karang yang baik.


1.  PERATURAN YANG BERKAITAN DENGAN TERUMBU KARANG

a.  Undang-Undang Lingkungan Hidup

Pengelolaan terumbu karang, sebagai sebuah lingkungan hidup atau ekosistem, diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997. Ditetapkan bahwa setiap orang secara pasif wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan; dan secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.


Undang-undang ini mengarahkan agar semua kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh setiap orang agar selalu mengacu pada fungsi lingkungan yaitu daya dukung dan daya tampung lingkungan, dan tidak melampauinya. Sebagai contoh kegiatan penangkapan ikan seharusnya tidak menyebabkan populasi ikan menjadi turun dan tidak mencukupi untuk kehidupan di masa datang.  Batas-batas fungsi lingkungan itu mengacu kemudian pada baku mutu lingkungan. Untuk biota di terumbu karang misalnya ada Baku Mutu Air laut untuk biota laut dan Kriteria Baku suatu terumbu karang dikategorikan rusak. Sementara itu, secara khusus tentang kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan diatur lebih lanjut dalam undang-undang lain.


b.  Undang-Undang Perikanan

Undang-Undang No.31 Tahun 2004 tentang Perikanan telah menetapkan berbagai upaya dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan. Terumbu karang adalah salah satu sumberdaya perikanan di Indonesia.

Undang-Undang menetapkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau pengrusakkan terhadap sumberdaya perikanan serta lingkungannya. Selain dengan pendekatan pencegahan, keberlanjutan sumberdaya juga perlu dilakukan melalui upaya konservasi dari tingkat ekosistem, jenis, maupun genetik terhadap sumberdaya ikan.


Dalam upaya menjamin terlaksananya upaya-upaya tersebut di atas, diterapkan sanksi bila terjadi pelanggaran. Sanksi akan dikenakan misalnya bila secara sengaja seseorang melakukan penangkapan ikan dan ataupun melakukan budidaya menggunakan bahan peledak, bahan kimia, bahan biologis, dan/atau dengan cara-cara yang merusak.


c.  Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang

Oleh karena Undang-Undang Perikanan tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang, maka diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian. Demikian pula secara sinergis direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat, pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga non-pemerintah.


Untuk mencapai harapan di atas, Pemerintah menetapkan 9 strategi yang mencakup:

  • Strategi 1 : Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem treumbu karang
  • Strategi  2 :  Mengurangi laju degradasi terumbu karang
  • Strategi 3 :  Mengelola terumbu karang berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, pemanfaatan, status hukum, dan kearifan masyarakat pesisir
  • Strategi 4 :  Merumuskan dan mengkoordinasikan program-program instansi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan masyarakat yang diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat
  • Strategi 5 :  Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas, dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang
  • Strategi 6 :  Mengembangkan, menjaga serta meningkatkan dukungan masyarakat luas dalam upaya-upaya pengelolaan ekosistem terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari terumbu karang
  • Strategi 7 :  Menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan serta mendefinisikan kembali criteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan upaya pelestarian lingkungan ekosistem terumbu karang
  • Strategi 8 :  Meningkatkan dan memperluas kemitraan antara pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM, dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara berkelanjutan
  • Strategi 9 :  Meningkatkan dan mempertegas komitmen pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang


2.  UPAYA PELESTARIAN DAN REHABILITASI TERUMBU KARANG

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam melestarian maupun merehabilitasi terumbu karang.  Di bawah ini tercantum beberapa di antaranya saja.

  • Pembentukan taman nasional laut sebagai kawasan konservasi, untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.  Contohnya Taman Nasional Laut Bunaken, Taman Nasional Laut Wakatobi, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu


  • Penetapan DPL (Daerah Perlindungan Laut) / APL (Area Perlindungan Laut) / KPL (Kawasan Perlindungan Laut) untuk melindungi sumberdaya perikanan beserta ekosistemnya dari ancaman kerusakan.  DPL/APL/KPL ini sebaiknya berbasis masyarakat sehingga masyarakat dapat ikut memantau dan mengelolanya


  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui perlindungan area terumbu karang yang rusak untuk upaya pemulihan.  Suatu area terumbu karang yang mengalami kerusakan namun masih berpotensi untuk dipulihkan, maka dilakukan upaya perlindungan area tersebut dengan menutup area itu sementara dari aktivitas perikanan, untuk membiarkannya pulih kembali.


  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang.  Transplantasi karang ialah sebuah upaya perbanyakan karang dengan menggunakan kemampuan regenerasi karang secara aseksual.  Namun demikian belum diketahui seberapa efektif upaya ini karena kegiatan transplantasi karang masih terbatas dilakukan pada jenis-jenis karang tertentu saja dan tingkat keberhasilannya masih sangat tergantung dari lingkungan perairan di sekitarnya (masih sangat bergantung pada alam)


  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui penyediaan substrat keras untuk tempat menempel larva karang.  Upaya ini terdiri dari peletakan substrat keras dari bahan kapur ke dasar laut dan membiarkan larva karang menempel dan hidup serta berkembang.  Selain itu ada juga yang memfasilitasi pembentukan zat kapur dari reaksi kimia melalui pemberian listrik di perairan laut, sehingga terbentuk substrat keras sebagai tempat larva karang untuk menempel


  • Kegiatan pendidikan, pelatihan, kampanye, maupun penyadaran kepada berbagai pihak tentang pentingnya melestarikan ekosistem pesisir, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian terumbu karang


Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak upaya pelestarian dan rehabilitasi terumbu karang yang telah dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia.


Daftar Acuan

Burke, L., E. Selig & M. Spalding. 2002. Reef at Risk in Southeast Asia. World Resources Institute, Washington D.C.: 40 hlm.

Cesar, H.1996.  Economic Analysis of Indonesian Coral Reef. The World Bank, Washington, D.C.: 97 hlm

Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil-DKP. 2005. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil-DKP, Jakarta: vi + 38 hlm.

Hubbard, D. 1997. Reefs as Dynamic Systems.  Dalam: Birkeland, C (ed.). 1997.  Life and Death of Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 43-67.

Muller-Parker, G dan C.F. D’Elia. 1997. Interaction Between Corals and Their Symbiotic Algae. Dalam: Birkeland, C. (ed.).1997.  Life and Death of Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 96-113.

Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji & M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas I. The Ecology of Indonesian Series Vol. VII.  Periplus Edition (HK) Ltd.: xiv + 1-642.

TERUMBU KARANG: MANFAAT EKOLOGI DAN EKONOMINYA, BESERTA FAKTOR PENGANCAM KELESTARIANNYA[1]

Oleh: Kiki Anggraini S.Si.[2]

A. PENGERTIAN TERUMBU KARANG DAN KARANG

Terumbu karang merupakan sebuah ekosistem unik yang dijumpai di perairan laut dangkal di wilayah tropis. Terumbu itu sendiri merupakan struktur dari kapur yang terhampar luas di dasaran laut dangkal, yang dihasilkan sebagian besar oleh karang, sehingga disebut terumbu karang. Terumbu karang menjadi sebuah ekosistem yang penting di perairan laut dangkal, karena banyak biota laut yang hidup di sekitarnya.

Karang adalah hewan avertebrata (tak bertulang belakang) yang hidup di laut. Karang yang menghasilkan kerangka kapur disebut karang keras (hard coral) . Karang keras menghasilkan kerangka kapur untuk melindungi tubuhnya yang lunak. Karang keras sebagian besar hidup secara berkelompok/berkoloni dan membentuk kerangka kapur yang kian lama kian besar, dan akhirnya membentuk struktur terumbu.

Hewan karang disebut juga polip. Pada gambar di bawah terlihat bentuk dari polip karang keras:




B. KARAKTERISTIK TERUMBU KARANG

Terumbu karang memiliki karakteristik antara lain sebagai sebuah ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang sangat tinggi, sehingga seringkali dijuluki dengan istilah “hutan tropisnya laut”. Terumbu karang juga merupakan salah satu ekosistem yang produktif karena banyak produsen yang menghasilkan oksigen dan bahan makanan bagi konsumen yang hidup di sekitar terumbu karang.

C. FAKTOR PEMBATAS PERKEMBANGAN TERUMBU KARANG

Apakah terumbu karang dapat ditemukan di setiap perairan ? Ternyata tidak demikian. Karang itu sendiri dapat hidup mulai dari perairan laut yang dingin di dekat kutub hingga perairan hangat di wilayah tropis, dan dapat hidup mulai dari perairan laut yang dangkal hingga ke perairan laut dalam. Namun demikian karang dapat tumbuh subur membentuk terumbu hanya di wilayah tertentu saja, yakni di perairan laut dangkal di wilayah tropis.

Terumbu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat berkembang dengan baik, yakni:

  1. Perairan laut yang bersalinitas antara 3,3 - 3,6 %
  2. Suhu perairan laut yang berkisar antara 18 o - 36 o C

(Hubbard, 1997)

  1. Perairan laut yang dangkal

Selain itu, untuk dapat berkembang dengan baik, terumbu karang juga memerlukan perairan laut yang jernih, terhindar dari pencemaran, dan perairan laut yang mengandung nutrien yang cukup untuk sumber makanan.

D. MANFAAT TERUMBU KARANG BAGI KEHIDUPAN
1. MANFAAT EKOLOGI

a. Penunjang Kehidupan

Oleh karena terumbu karang merupakan suatu ekosistem, maka ia menunjang kehidupan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitar terumbu karang. Dengan adanya terumbu karang maka tumbuhan dan hewan laut lainnya dapat tinggal, mencari makan dan berkembang biak di terumbu karang.

Contohnya hewan-hewan laut seperti lili laut, kerang, cacing, dan tumbuhan alga dapat menempel pada koloni karang keras. Ikan-ikan dapat mencari makan dan bersembunyi dari incaran hewan pemangsa di balik koloni karang keras.

b. Mengandung Keanekaragaman Hayati yang Tinggi

Jika hutan hujan tropis memiliki biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem lainnya dalam tingkatan spesies, terumbu karang memiliki biodiversitas tertinggi dalam tingkatan filum. Terumbu karang juga merupakan ekosistem dengan biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem pesisir dan laut lainnya, dalam unit skala tertentu. Artinya dalam luas 1 km2 di wilayah terumbu karang mengandung lebih banyak spesies dibandingkan dengan 1 km2 di wilayah laut dalam.

Terumbu karang di Indonesia terkenal dengan kekayaan dari biodiversitasnya. Dari sekitar 800 spesies karang keras yang berhasil diidentifikasi di dunia, sekitar 450 di antaranya ditemukan di Indonesia. Spesies ikan karang Indonesia sendiri mencapai lebih dari 2.400 spesies (Tomascik dkk., 1997).

Mengapa biodiversitas menjadi penting ? Dengan memiliki biodiversitas yang tinggi, maka itu akan menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies. Dengan adanya keanekaragaman genetik yang tinggi maka akan ditemukan banyak variasi dalam makhluk hidup sehingga tingkat ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan bertahan hidup suatu makhluk hidup dapat menjadi lebih tinggi. Selain itu dengan begitu banyaknya spesies maka akan dapat dimanfaatkan untuk sebagai sumber pangan dan obat-obatan.

c. Pelindung Wilayah Pantai




Terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau merupakan ekosistem yang saling berhubungan. Terumbu karang-lah yang pertama kali menghalau ombak besar dari laut, agar tidak merusak daratan. Kemudian ombak tiba di padang lamun maka energinya akan diperkecil lagi oleh daun-daun tumbuhan lamun. Ketika ombak tiba di dekat pantai, maka akar dan batang pohon-pohon mangrove akan memperkecil lagi energi ombak, sehingga ombak tidak merusak pantai. Dengan demikian kehidupan di sekitar pantai akan terlindung. Terumbu karang bermanfaat dalam menghalangi pengikisan akibat energi ombak dan arus, sehingga masalah abrasi pantai akan lebih mudah diatasi.

d. Mengurangi Pemanasan Global

Mungkin kita telah mengetahui bahwa hutan hujan tropis merupakan “paru-paru dunia” dimana menyerap gas CO2 hasil pembakaran sehingga mengurangi pemanasan pada bumi. Terumbu karang pun dinilai memiliki peran yang sama, karena gas CO2 juga banyak diserap oleh air laut, dan selanjutnya melalui reaksi kimia dan bantuan karang, akan diubah menjadi zat kapur yang menjadi bahan baku terumbu (Muller-Parker & D’Elia, 1997). Dalam proses yang disebut kalsifikasi ini, karang juga dibantu oleh zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di dalam jaringan tubuh karang). Bagaimana hal itu dapat terjadi akan diterangkan di bagian Biolog Karang.

B. MANFAAT EKONOMI

a. Sumber Makanan

Di terumbu karang kita dapat menemui banyak sekali jenis tumbuhan dan hewan laut yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber makanan. Contohnya alga atau rumput laut yang dapat kita jadikan agar-agar. Selain itu berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan teripang merupakan sumber protein. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat dapat diperoleh sekitar 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan sekitar 1.200 orang setiap tahunnya (Burke dkk., 2002). Cesar (1996) menyebutkan 5 – 10 % hasil perikanan laut berasal dari terumbu karang.

b. Sumber Bahan Dasar Untuk Obat-obatan dan Kosmetika

Beberapa jenis dari alga atau rumput laut, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk keperluan kosmetik (dijadikan sabun), dan juga untuk membalut kapsul obat. Selain itu hewan laut seperti spon dan tunicata (Ascidian) yang ada di terumbu karang, diketahui memiliki senyawa kimia yang berguna untuk bahan antibiotika, anti radang, dan anti kanker. Namun demikian, masih banyak potensi biota laut bagi industri obat dan bahan kimia, yang belum digali.

c. Sebagai Objek Wisata

Terumbu karang juga memiliki keindahan karena adanya berbagai jenis karang, ikan, lili laut, teripang, kerang-kerangan, siput laut, dan lain sebagainya, yang membuat takjub para wisatawan. Terumbu karang dapat menjadi objek wisata melalui kegiatan snorkeling, menyelam, ataupun hanya melihat keindahannya dari atas kapal yang dilengkapi kaca pada lantainya (glass bottom boat).

d. Sebagai Sumber Mata Pencaharian

Adanya terumbu karang dapat menunjang perekonomian masyarakat di sekitarnya. Masyarakat memiliki lapangan pekerjaan sebagai nelayan. Apabila terumbu karang dikembangkan menjadi suatu objek wisata yang mengundang banyak turis, maka masyarakat dapat menjadi menjadi pemandu wisata, membuka usaha warung makanan, menyewakan penginapan, menyewakan kapal, menjual cenderamata ke turis, dan lain sebagainya.

e. Sebagai Sumber Bibit Budidaya

Berbagai jenis ikan, teripang dan rumput laut, yang ada di terumbu karang, dapat dijadikan bibit untuk usaha budidaya. Contohnya ikan kerapu, ikan kakap, rumput laut dari Marga Eucheuma dan Gracilaria, dan teripang dari Marga Holothuria.

Berdasarkan Riopelle (1995) (lihat Cesar (1996) , yang mengkalkulasi nilai ekonomi dari 1 km2 terumbu karang di wilayah Lombok Barat, dimana terumbu karangnya dimanfaatkan secara optimal (tidak saja untuk sumber perikanan dan pelindung pantai, namun juga untuk kegiatan wisata), sehingga diperkirakan 1 km2 terumbu karang di Lombok Barat bernilai sekitar US $ 1 juta.

C. MANFAAT SOSIAL

a. Menunjang Kegiatan Pendidikan dan Penelitian

Terumbu karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan pendidikan untuk mengenal ekosistem pesisir, mengenal tumbuhan dan hewan laut, dan pendidikan cinta alam. Antara lain karena terumbu karang ada di perairan yang dangkal, sehingga mudah dijangkau, dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga banyak biota laut yang dapat kita amati.

Selain itu terumbu karang juga berperan sebagai sarana penelitian. Untuk melindungi terumbu karang dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan di terumbu karang, maka perlu adanya berbagai jenis penelitian. Apabila kita ingin mejaga kelestarian terumbu karang, maka kita perlu meneliti faktor apa saja yang dapat mengancam kelestariannya, dan bagaimana memulihkan terumbu karang yang terganggu, sehingga kita dapat melakukan upaya-upaya yang diperlukan. Demikian pula apabila kita ingin melindungi satu jenis spesies di terumbu karang maka kita perlu meneliti cara hidup spesies tersebut, apa saja yang dimakannya, bagaimana cara berkembang biaknya, dan lain sebagainya.

b. Sebagai Sarana Rekreasi Masyarakat

Terumbu karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana rekreasi keluarga untuk melakukan aktivitas renang, dan lain sebagainya.

E. FAKTOR PENGANCAM KELESTARIAN TERUMBU KARANG

1. FAKTOR DARI ALAM

Bencana alam dan kejadian lainnya yang terjadi secara alamiah dapat merusak terumbu karang. Di bawah ini tercantum hal-hal yang dapat merusak terumbu karang yang terjadi secara alamiah, antara lain ialah:

1. Gempa bumi berakibat memporak-porandakan terumbu karang

2. Badai di laut seperti halnya tsunami berakibat menghancurkan terumbu karang

3. Kenaikan suhu air laut dan kenaikan permukaan air laut pada tahap tertentu dapat mematikan karang

4. Penyakit antara lain akibat infeksi oleh bakteri berakibat mematikan karang

5. Serangan hewan pemangsa (Bulu Seribu) berakibat mematikan karang

2. FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA SECARA LANGSUNG

a. Penangkapan Ikan Dan Biota Laut Lainnya Dengan Cara Yang Merusak

Contohnya menangkap ikan dan hasil laut lainnya dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida. Bom yang dilemparkan di terumbu karang akan menghancurkan koloni karang dan biota laut lainnya di sekitar terumbu karang. Menuang racun di sekitar terumbu karang untuk menangkap ikan hias juga akan mematikan karang dan biota laut lainnya. Terumbu karang adalah rumah bagi tumbuhan dan hewan laut, termasuk ikan-ikan. Jika terumbu karang hancur maka ikan-ikan akan sulit ditemukan.

b. Pengambilan Biota Laut Untuk Diperdagangkan

Pengambilan karang untuk diperdagangkan akan sangat merusak terumbu karang. Jika karang tidak ada maka terumbu karang tidak akan terbentuk. Pengambilan biota laut di terumbu karang, seperti kima yang menempel pada koloni karang juga akan merusak terumbu karang. Oleh karena ketika mengambil biota laut mereka menginjak-injak dan mencongkel karang. Pengambilan biota laut secara berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan jaring-jaring makanan di terumbu karang.

Contohnya jika kita banyak mengambil keong triton (Charonia tritonis), yakni sejenis keong laut yang ukurannya besar, untuk cenderamata, maka akan terjadi gangguan. Keong laut ini memakan Bulu Seribu, maka jika ia habis diambil, maka Bulu Seribu tidak mempunyai pemangsa, maka jumlah Bulu Seribu menjadi banyak dan ini merugikan, karena Bulu Seribu memangsa karang.

c. Pembuangan Sampah Ke Laut

Sampah yang dibuang dari tepi pantai, ataupun dari tengah laut (dari atas kapal misalnya), akan mencemari perairan laut, termasuk perairan di sekitar terumbu karang. Sampah plastik dapat membunuh hewan-hewan laut, seperti Penyu Sisik, karena Penyu Sisik akan mengira sampah plastik sebagai makanannya, yakni ubur-ubur, sehingga sampah itu ditelannya dan mengakibatkan kematian.

Sampah juga akan mematikan karang, karena sampah menutupi dan menempel pada koloni karang keras, sehingga zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di jaringan tubuh si hewan karang) tidak dapat berfotosintesis, sehingga zooxanthellae dapat mati dan akhirnya si hewan karang juga dapat mati. Selain itu sampah juga akan membuat lingkungan di sekitar laut menjadi buruk dan kotor.

d. Kegiatan Wisata Yang Tidak Memperdulikan Lingkungan

Kegiatan wisata baik itu berupa kegiatan jalan-jalan di pantai, berenang, snorkeling, ataupun menyelam di terumbu karang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat merusak terumbu karang. Wisatawan akan membuang sampah tidak pada tempatnya. Mereka juga dapat menginjak-injak, menyentuh, membunuh, ataupun dan mengambil karang dan biota laut lainnya.

3. FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA SECARA TIDAK LANGSUNG

a. Pencemaran Dari Darat Ke Laut

Pencemaran dari darat dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir. Sungai dari darat yang mengalir hingga ke muara dan berakhir di laut dapat membawa limbah (zat pencemar). Secara umum limbah dapat dikategorikan menjadi limbah padat (yakni sampah plastik,kaleng, dll.), dan limbah cair (pupuk kimia, zat racun dari industri, dll.). Pupuk kimia merupakan makanan bagi Bulu Seribu yang masih kecil, sehingga ketika ada banyak pupuk kimia mengalir ke laut, maka jumlah Bulu Seribu akan menjadi banyak dan menjadi hama yang akan memakan karang.

b. Sedimentasi Dari Darat

Masuknya sedimen, sering disebut sebagai sedimentasi, yang biasanya dari arah darat ke laut, dapat merusak terumbu karang. Sedimen seperti lumpur yang datang dari darat akan membuat perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh. Akibatnya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuh polip karang akan sulit untuk berfotosintesis, dan dapat mati, akhirnya karang juga dapat mati.

c. Pembangunan Di Wilayah Pesisir (Tepi Pantai)

Mengapa pembangunan di wilayah pesisir dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir dan laut ? Oleh karena pembangunan di wilayah pesisir, seperti pembangunan pusat perbelanjaan dan pembangunan pemukiman, menghasilkan sedimen (adanya tanah, semen dan lumpur) yang akan mencemari perairan di sekitar terumbu karang. Selain itu sampah yang dihasilkan dari pusat perbelanjaan dan pemukiman yang tidak dikelola dengan baik, juga akan mencemari wilayah terumbu karang.

Pembangunan di wilayah pesisir juga akan mengurangi areal lahan mangrove. Mata rantai antara ekosistem hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang dapat terputus. Hutan bakau dan padang lamun berjasa besar dalam mencegah pencemaran dari darat ke laut.

F. PELESTARIAN TERUMBU KARANG

Untuk dapat melestarikan terumbu karang sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, perlu adanya upaya-upaya pengelolaan terumbu karang yang baik.

1. PERATURAN YANG BERKAITAN DENGAN TERUMBU KARANG

a. Undang-Undang Lingkungan Hidup

Pengelolaan terumbu karang, sebagai sebuah lingkungan hidup atau ekosistem, diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997. Ditetapkan bahwa setiap orang secara pasif wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan; dan secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Undang-undang ini mengarahkan agar semua kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh setiap orang agar selalu mengacu pada fungsi lingkungan yaitu daya dukung dan daya tampung lingkungan, dan tidak melampauinya. Sebagai contoh kegiatan penangkapan ikan seharusnya tidak menyebabkan populasi ikan menjadi turun dan tidak mencukupi untuk kehidupan di masa datang. Batas-batas fungsi lingkungan itu mengacu kemudian pada baku mutu lingkungan. Untuk biota di terumbu karang misalnya ada Baku Mutu Air laut untuk biota laut dan Kriteria Baku suatu terumbu karang dikategorikan rusak. Sementara itu, secara khusus tentang kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan diatur lebih lanjut dalam undang-undang lain.

b. Undang-Undang Perikanan

Undang-undang Perikanan No 31 Tahun 2004 telah menetapkan berbagai upaya dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan. Terumbu karang adalah salah satu sumberdaya perikanan di Indonesia.

Undang-Undang menetapkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau pengrusakkan terhadap sumberdaya perikanan serta lingkungannya. Selain dengan pendekatan pencegahan, keberlanjutan sumberdaya juga perlu dilakukan melalui upaya konservasi dari tingkat ekosistem, jenis, maupun genetik terhadap sumberdaya ikan.

Dalam upaya menjamin terlaksananya upaya-upaya tersebut di atas, diterapkan sanksi bila terjadi pelanggaran. Sanksi akan dikenakan misalnya bila secara sengaja seseorang melakukan penangkapan ikan dan ataupun melakukan budidaya menggunakan bahan peledak, bahan kimia, bahan biologis, dan/atau dengan cara-cara yang merusak.

c. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang

Oleh karena Undang-Undang Perikanan tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang, maka diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian. Demikian pula secara sinergis direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat, pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga non-pemerintah.

Untuk mencapai harapan di atas, Pemerintah menetapkan 9 strategi yang mencakup:

  • Strategi 1: Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem treumbu karang
  • Strategi 2: Mengurangi laju degradasi terumbu karang
  • Strategi 3: Mengelola terumbu karang berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, pemanfaatan, status hukum, dan kearifan masyarakat pesisir
  • Strategi 4: Merumuskan dan mengkoordinasikan program-program instansi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan masyarakat yang diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat
  • Strategi 5: Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas, dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang
  • Strategi 6: Mengembangkan, menjaga serta meningkatkan dukungan masyarakat luas dalam upaya-upaya pengelolaan ekosistem terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari terumbu karang
  • Strategi 7: Menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan serta mendefinisikan kembali criteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan upaya pelestarian lingkungan ekosistem terumbu karang
  • Strategi 8: Meningkatkan dan memperluas kemitraan antara pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM, dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara berkelanjutan
  • Strategi 9: Meningkatkan dan mempertegas komitmen pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang

2. UPAYA PELESTARIAN DAN REHABILITASI TERUMBU KARANG

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam melestarian maupun merehabilitasi terumbu karang. Di bawah ini tercantum beberapa di antaranya saja.

  • Pembentukan taman nasional laut sebagai kawasan konservasi, untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Contohnya Taman Nasional Laut Bunaken, Taman Nasional Laut Wakatobi, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

  • Penetapan DPL (Daerah Perlindungan Laut) / APL (Area Perlindungan Laut) / KPL (Kawasan Perlindungan Laut) untuk melindungi sumberdaya perikanan beserta ekosistemnya dari ancaman kerusakan. DPL/APL/KPL ini sebaiknya berbasis masyarakat sehingga masyarakat dapat ikut memantau dan mengelolanya

  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui perlindungan area terumbu karang yang rusak untuk upaya pemulihan. Suatu area terumbu karang yang mengalami kerusakan namun masih berpotensi untuk dipulihkan, maka dilakukan upaya perlindungan area tersebut dengan menutup area itu sementara dari aktivitas perikanan, untuk membiarkannya pulih kembali.

  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang. Transplantasi karang ialah sebuah upaya perbanyakan karang dengan menggunakan kemampuan regenerasi karang secara aseksual. Namun demikian belum diketahui seberapa efektif upaya ini karena kegiatan transplantasi karang masih terbatas dilakukan pada jenis-jenis karang tertentu saja dan tingkat keberhasilannya masih sangat tergantung dari lingkungan perairan di sekitarnya (masih sangat bergantung pada alam)

  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui penyediaan substrat keras untuk tempat menempel larva karang. Upaya ini terdiri dari peletakan substrat keras dari bahan kapur ke dasar laut dan membiarkan larva karang menempel dan hidup serta berkembang. Selain itu ada juga yang memfasilitasi pembentukan zat kapur dari reaksi kimia melalui pemberian listrik di perairan laut, sehingga terbentuk substrat keras sebagai tempat larva karang untuk menempel

  • Kegiatan pendidikan, pelatihan, kampanye, maupun penyadaran kepada berbagai pihak tentang pentingnya melestarikan ekosistem pesisir, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian terumbu karang

Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak upaya pelestarian dan rehabilitasi terumbu karang yang telah dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia.

Daftar Acuan

Burke, L., E. Selig & M. Spalding. 2002. Reef at Risk in Southeast Asia. World Resources Institute, Washington D.C.: 40 hlm.

Cesar, H.1996. Economic Analysis of Indonesian Coral Reef. The World Bank, Washington, D.C.: 97 hlm

Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil-DKP. 2005. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil-DKP, Jakarta: vi + 38 hlm.

Hubbard, D. 1997.


Oleh:  Kiki Anggraini S.Si.


A.  PENGERTIAN TERUMBU KARANG DAN KARANG


Terumbu karang merupakan sebuah ekosistem unik yang dijumpai di perairan laut dangkal di wilayah tropis.  Terumbu itu sendiri merupakan struktur dari kapur yang terhampar luas di dasaran laut dangkal, yang dihasilkan sebagian besar oleh karang, sehingga disebut terumbu karang.  Terumbu karang menjadi sebuah ekosistem yang penting di perairan laut dangkal, karena banyak biota laut yang hidup di sekitarnya.

Karang adalah hewan avertebrata (tak bertulang belakang) yang hidup di laut.  Karang yang menghasilkan kerangka kapur disebut karang keras (hard coral).  Karang keras menghasilkan kerangka kapur untuk melindungi tubuhnya yang lunak.  Karang keras sebagian besar hidup secara berkelompok/berkoloni dan membentuk kerangka kapur yang kian lama kian besar, dan akhirnya membentuk struktur terumbu.





Hewan karang disebut juga polip.  Pada gambar di bawah terlihat bentuk dari polip karang keras:














B.  KARAKTERISTIK TERUMBU KARANG


Terumbu karang memiliki karakteristik antara lain sebagai sebuah ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang sangat tinggi, sehingga seringkali dijuluki dengan istilah “hutan tropisnya laut”.  Terumbu karang juga merupakan salah satu ekosistem yang produktif karena banyak produsen yang menghasilkan oksigen dan bahan makanan bagi konsumen yang hidup di sekitar terumbu karang.


C.  FAKTOR PEMBATAS PERKEMBANGAN TERUMBU KARANG


Apakah terumbu karang dapat ditemukan di setiap perairan ?  Ternyata tidak demikian.  Karang itu sendiri dapat hidup mulai dari perairan laut yang dingin di dekat kutub hingga perairan hangat di wilayah tropis, dan dapat hidup mulai dari perairan laut yang dangkal hingga ke perairan laut dalam.  Namun demikian karang dapat tumbuh subur membentuk terumbu hanya di wilayah tertentu saja, yakni di perairan laut dangkal di wilayah tropis.

Terumbu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat berkembang dengan baik, yakni:

  1. Perairan laut yang bersalinitas antara 3,3 - 3,6 %
  2. Suhu perairan laut yang berkisar antara 18 o - 36 o C

(Hubbard, 1997)

  1. Perairan laut yang dangkal

Selain itu, untuk dapat berkembang dengan baik, terumbu karang juga memerlukan perairan laut yang jernih, terhindar dari pencemaran, dan perairan laut yang mengandung nutrien yang cukup untuk sumber makanan.


D.  MANFAAT TERUMBU KARANG BAGI KEHIDUPAN
1.  MANFAAT EKOLOGI


a.  Penunjang Kehidupan


Oleh karena terumbu karang merupakan suatu ekosistem, maka ia menunjang kehidupan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitar terumbu karang.  Dengan adanya terumbu karang maka tumbuhan dan hewan laut lainnya dapat tinggal, mencari makan dan berkembang biak di terumbu karang.

Contohnya hewan-hewan laut seperti lili laut, kerang, cacing, dan tumbuhan alga dapat menempel pada koloni karang keras.  Ikan-ikan dapat mencari makan dan bersembunyi dari incaran hewan pemangsa di balik koloni karang keras.


b.  Mengandung Keanekaragaman Hayati yang Tinggi

Jika hutan hujan tropis memiliki biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem lainnya dalam tingkatan spesies, terumbu karang memiliki biodiversitas tertinggi dalam tingkatan filum.  Terumbu karang juga  merupakan ekosistem dengan biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem pesisir dan laut lainnya, dalam unit skala tertentu.  Artinya dalam luas 1 km2 di wilayah terumbu karang mengandung lebih banyak spesies dibandingkan dengan 1 km2 di wilayah laut dalam.

Terumbu karang di Indonesia terkenal dengan kekayaan dari biodiversitasnya.  Dari sekitar 800 spesies karang keras yang berhasil diidentifikasi di dunia, sekitar 450 di antaranya ditemukan di Indonesia.  Spesies ikan karang  Indonesia sendiri mencapai lebih dari 2.400 spesies (Tomascik dkk., 1997).

Mengapa biodiversitas menjadi penting ?  Dengan memiliki biodiversitas yang tinggi, maka itu akan menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies.  Dengan adanya keanekaragaman genetik yang tinggi maka akan ditemukan banyak variasi dalam makhluk hidup sehingga tingkat ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan bertahan hidup suatu makhluk hidup dapat menjadi lebih tinggi.  Selain itu dengan begitu banyaknya spesies maka akan dapat dimanfaatkan untuk sebagai sumber pangan dan obat-obatan.


c.  Pelindung Wilayah Pantai















Terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau merupakan ekosistem yang saling berhubungan.  Terumbu karang-lah yang pertama kali menghalau ombak besar dari laut, agar tidak merusak daratan.  Kemudian ombak tiba di padang lamun maka energinya akan diperkecil lagi oleh daun-daun tumbuhan lamun.  Ketika ombak tiba di dekat pantai, maka akar dan batang pohon-pohon mangrove akan memperkecil lagi energi ombak, sehingga ombak tidak merusak pantai.  Dengan demikian kehidupan di sekitar pantai akan terlindung.  Terumbu karang bermanfaat dalam menghalangi pengikisan akibat energi ombak dan arus, sehingga masalah abrasi pantai akan lebih mudah diatasi.


d.  Mengurangi Pemanasan Global

Mungkin kita telah mengetahui bahwa hutan hujan tropis merupakan “paru-paru dunia” dimana menyerap gas CO2 hasil pembakaran sehingga mengurangi pemanasan pada bumi.  Terumbu karang pun dinilai memiliki peran yang sama, karena gas CO2 juga banyak diserap oleh air laut, dan selanjutnya melalui reaksi kimia dan bantuan karang, akan diubah menjadi zat kapur yang menjadi bahan baku terumbu (Muller-Parker & D’Elia, 1997).  Dalam proses yang disebut kalsifikasi ini, karang juga dibantu oleh zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di dalam jaringan tubuh karang).  Bagaimana hal itu dapat terjadi akan diterangkan di bagian Biolog Karang.


B.  MANFAAT EKONOMI


a.  Sumber Makanan


Di terumbu karang kita dapat menemui banyak sekali jenis tumbuhan dan hewan laut yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber makanan.  Contohnya alga atau rumput laut yang dapat kita jadikan agar-agar.  Selain itu berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan teripang merupakan sumber protein.  Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat dapat diperoleh sekitar 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan sekitar 1.200 orang setiap tahunnya (Burke dkk., 2002).  Cesar (1996) menyebutkan 5 – 10 % hasil perikanan laut berasal dari terumbu karang.

b.  Sumber Bahan Dasar Untuk Obat-obatan dan Kosmetika


Beberapa jenis dari alga atau rumput laut, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk keperluan kosmetik (dijadikan sabun), dan juga untuk membalut kapsul obat.  Selain itu hewan laut seperti spon dan tunicata (Ascidian) yang ada di terumbu karang, diketahui memiliki senyawa kimia yang berguna untuk bahan antibiotika, anti radang, dan anti kanker.  Namun demikian, masih banyak potensi biota laut bagi industri obat dan bahan kimia, yang belum digali.


c.  Sebagai Objek Wisata


Terumbu karang juga memiliki keindahan karena adanya berbagai jenis karang, ikan, lili laut, teripang, kerang-kerangan, siput laut, dan lain sebagainya, yang membuat takjub para wisatawan.  Terumbu karang dapat menjadi objek wisata melalui kegiatan snorkeling, menyelam, ataupun hanya melihat keindahannya dari atas kapal yang dilengkapi kaca pada lantainya (glass bottom boat).

d.  Sebagai Sumber Mata Pencaharian


Adanya terumbu karang dapat menunjang perekonomian masyarakat di sekitarnya.  Masyarakat memiliki lapangan pekerjaan sebagai nelayan.  Apabila terumbu karang dikembangkan menjadi suatu objek wisata yang mengundang banyak turis, maka masyarakat dapat menjadi menjadi pemandu wisata, membuka usaha warung makanan, menyewakan penginapan, menyewakan kapal, menjual cenderamata ke turis, dan lain sebagainya.


e.  Sebagai Sumber Bibit Budidaya


Berbagai jenis ikan, teripang dan rumput laut, yang ada di terumbu karang, dapat dijadikan bibit untuk usaha budidaya.  Contohnya ikan kerapu, ikan kakap, rumput laut dari Marga Eucheuma dan Gracilaria, dan teripang dari Marga Holothuria.


Berdasarkan Riopelle (1995) (lihat Cesar (1996) , yang mengkalkulasi nilai ekonomi dari 1 km2 terumbu karang di wilayah Lombok Barat, dimana terumbu karangnya dimanfaatkan secara optimal (tidak saja untuk sumber perikanan dan pelindung pantai, namun juga untuk kegiatan wisata), sehingga diperkirakan 1 km2 terumbu karang di Lombok Barat bernilai sekitar US $ 1 juta.


C.  MANFAAT SOSIAL


a.  Menunjang Kegiatan Pendidikan dan Penelitian


Terumbu karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan pendidikan untuk mengenal ekosistem pesisir, mengenal tumbuhan dan hewan laut, dan pendidikan cinta alam.  Antara lain karena terumbu karang ada di perairan yang dangkal, sehingga mudah dijangkau, dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga banyak biota laut yang dapat kita amati.

Selain itu terumbu karang juga berperan sebagai sarana penelitian.  Untuk melindungi terumbu karang dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan di terumbu karang, maka perlu adanya berbagai jenis penelitian.  Apabila kita ingin mejaga kelestarian terumbu karang, maka kita perlu meneliti faktor apa saja yang dapat mengancam kelestariannya, dan bagaimana memulihkan terumbu karang yang terganggu, sehingga kita dapat melakukan upaya-upaya yang diperlukan.  Demikian pula apabila kita ingin melindungi satu jenis spesies di terumbu karang maka kita perlu meneliti cara hidup spesies tersebut, apa saja yang dimakannya, bagaimana cara berkembang biaknya, dan lain sebagainya.


b.  Sebagai Sarana Rekreasi Masyarakat


Terumbu karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana rekreasi keluarga untuk melakukan aktivitas renang, dan lain sebagainya.


E.  FAKTOR PENGANCAM KELESTARIAN TERUMBU KARANG

1.  FAKTOR DARI ALAM

Bencana alam dan kejadian lainnya yang terjadi secara alamiah dapat merusak terumbu karang.  Di bawah ini tercantum hal-hal yang dapat merusak terumbu karang yang terjadi secara alamiah, antara lain ialah:

1.  Gempa bumi berakibat memporak-porandakan terumbu karang

2.  Badai di laut seperti halnya tsunami berakibat menghancurkan terumbu karang

3.  Kenaikan suhu air laut dan kenaikan permukaan air laut pada tahap tertentu dapat mematikan karang

4.  Penyakit antara lain akibat infeksi oleh bakteri berakibat mematikan karang

5.  Serangan hewan pemangsa (Bulu Seribu) berakibat mematikan karang


2.  FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA SECARA LANGSUNG

a.  Penangkapan Ikan Dan Biota Laut Lainnya Dengan Cara Yang Merusak

Contohnya menangkap ikan dan hasil laut lainnya dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida.  Bom yang dilemparkan di terumbu karang akan menghancurkan koloni karang dan biota laut lainnya di sekitar terumbu karang.  Menuang racun di sekitar terumbu karang untuk menangkap ikan hias juga akan mematikan karang dan biota laut lainnya. Terumbu karang adalah rumah bagi tumbuhan dan hewan laut, termasuk ikan-ikan.  Jika terumbu karang hancur maka ikan-ikan akan sulit ditemukan.


b.  Pengambilan Biota Laut Untuk Diperdagangkan


Pengambilan karang untuk diperdagangkan akan sangat merusak terumbu karang.  Jika karang tidak ada maka terumbu karang tidak akan terbentuk.  Pengambilan biota laut di terumbu karang, seperti kima yang menempel pada koloni karang juga akan merusak terumbu karang.  Oleh karena ketika mengambil biota laut mereka menginjak-injak dan mencongkel karang.  Pengambilan biota laut secara berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan jaring-jaring makanan di terumbu karang.

Contohnya jika kita banyak mengambil keong triton (Charonia tritonis), yakni sejenis keong laut yang ukurannya besar, untuk cenderamata, maka akan terjadi gangguan.  Keong laut ini memakan Bulu Seribu, maka jika ia habis diambil, maka Bulu Seribu tidak mempunyai pemangsa, maka jumlah Bulu Seribu menjadi banyak dan ini merugikan, karena Bulu Seribu memangsa karang.


c.  Pembuangan Sampah Ke Laut


Sampah yang dibuang dari tepi pantai, ataupun dari tengah laut (dari atas kapal misalnya), akan mencemari perairan laut, termasuk perairan di sekitar terumbu karang.  Sampah plastik dapat membunuh hewan-hewan laut, seperti Penyu Sisik, karena Penyu Sisik akan mengira sampah plastik sebagai makanannya, yakni ubur-ubur, sehingga sampah itu ditelannya dan mengakibatkan kematian.

Sampah juga akan mematikan karang, karena sampah menutupi dan menempel pada koloni karang keras, sehingga zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di jaringan tubuh si hewan karang) tidak dapat berfotosintesis, sehingga zooxanthellae dapat mati dan akhirnya si hewan karang juga dapat mati.  Selain itu sampah juga akan membuat lingkungan di sekitar laut menjadi buruk dan kotor.


d.  Kegiatan Wisata Yang Tidak Memperdulikan Lingkungan


Kegiatan wisata baik itu berupa kegiatan jalan-jalan di pantai, berenang, snorkeling, ataupun menyelam di terumbu karang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat merusak terumbu karang.  Wisatawan akan membuang sampah tidak pada tempatnya.  Mereka juga dapat menginjak-injak, menyentuh, membunuh, ataupun dan mengambil karang dan biota laut lainnya.


3.  FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA SECARA TIDAK LANGSUNG


a.  Pencemaran Dari Darat Ke Laut


Pencemaran dari darat dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir.  Sungai dari darat yang mengalir hingga ke muara dan berakhir di laut dapat membawa limbah (zat pencemar).  Secara umum limbah dapat dikategorikan menjadi limbah padat (yakni sampah plastik,kaleng, dll.), dan limbah cair (pupuk kimia, zat racun dari industri, dll.).  Pupuk kimia merupakan makanan bagi Bulu Seribu yang masih kecil, sehingga ketika ada banyak pupuk kimia mengalir ke laut, maka jumlah Bulu Seribu akan menjadi banyak dan menjadi hama yang akan memakan karang.



b.  Sedimentasi Dari Darat


Masuknya sedimen, sering disebut sebagai sedimentasi, yang biasanya dari arah darat ke laut, dapat merusak terumbu karang.  Sedimen seperti lumpur yang datang dari darat akan membuat perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh.  Akibatnya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuh polip karang akan sulit untuk berfotosintesis, dan dapat mati, akhirnya karang juga dapat mati.


c.  Pembangunan Di Wilayah Pesisir (Tepi Pantai)


Mengapa pembangunan di wilayah pesisir dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir dan laut ?  Oleh karena pembangunan di wilayah pesisir, seperti pembangunan pusat perbelanjaan dan pembangunan pemukiman, menghasilkan sedimen (adanya tanah, semen dan lumpur) yang akan mencemari perairan di sekitar terumbu karang.  Selain itu sampah yang dihasilkan dari pusat perbelanjaan dan pemukiman yang tidak dikelola dengan baik, juga akan mencemari wilayah terumbu karang.

Pembangunan di wilayah pesisir juga akan mengurangi areal lahan mangrove.  Mata rantai antara ekosistem hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang dapat terputus.  Hutan bakau dan padang lamun berjasa besar dalam mencegah pencemaran dari darat ke laut.


F.  PELESTARIAN TERUMBU KARANG

Untuk dapat melestarikan terumbu karang sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, perlu adanya upaya-upaya pengelolaan terumbu karang yang baik.


1.  PERATURAN YANG BERKAITAN DENGAN TERUMBU KARANG

a.  Undang-Undang Lingkungan Hidup


Pengelolaan terumbu karang, sebagai sebuah lingkungan hidup atau ekosistem, diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997. Ditetapkan bahwa setiap orang secara pasif wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan; dan secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.


Undang-undang ini mengarahkan agar semua kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh setiap orang agar selalu mengacu pada fungsi lingkungan yaitu daya dukung dan daya tampung lingkungan, dan tidak melampauinya. Sebagai contoh kegiatan penangkapan ikan seharusnya tidak menyebabkan populasi ikan menjadi turun dan tidak mencukupi untuk kehidupan di masa datang.  Batas-batas fungsi lingkungan itu mengacu kemudian pada baku mutu lingkungan. Untuk biota di terumbu karang misalnya ada Baku Mutu Air laut untuk biota laut dan Kriteria Baku suatu terumbu karang dikategorikan rusak. Sementara itu, secara khusus tentang kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan diatur lebih lanjut dalam undang-undang lain.


b.  Undang-Undang Perikanan

Undang-undang Perikanan No 31 Tahun 2004 telah menetapkan berbagai upaya dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan. Terumbu karang adalah salah satu sumberdaya perikanan di Indonesia.

Undang-Undang menetapkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau pengrusakkan terhadap sumberdaya perikanan serta lingkungannya. Selain dengan pendekatan pencegahan, keberlanjutan sumberdaya juga perlu dilakukan melalui upaya konservasi dari tingkat ekosistem, jenis, maupun genetik terhadap sumberdaya ikan.


Dalam upaya menjamin terlaksananya upaya-upaya tersebut di atas, diterapkan sanksi bila terjadi pelanggaran. Sanksi akan dikenakan misalnya bila secara sengaja seseorang melakukan penangkapan ikan dan ataupun melakukan budidaya menggunakan bahan peledak, bahan kimia, bahan biologis, dan/atau dengan cara-cara yang merusak.


c.  Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang


Oleh karena Undang-Undang Perikanan tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang, maka diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian. Demikian pula secara sinergis direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat, pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga non-pemerintah.


Untuk mencapai harapan di atas, Pemerintah menetapkan 9 strategi yang mencakup:


  • Strategi 1: Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem treumbu karang
  • Strategi 2:  Mengurangi laju degradasi terumbu karang
  • Strategi 3:  Mengelola terumbu karang berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, pemanfaatan, status hukum, dan kearifan masyarakat pesisir
  • Strategi 4:  Merumuskan dan mengkoordinasikan program-program instansi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan masyarakat yang diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat
  • Strategi 5:  Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas, dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang
  • Strategi 6:  Mengembangkan, menjaga serta meningkatkan dukungan masyarakat luas dalam upaya-upaya pengelolaan ekosistem terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari terumbu karang
  • Strategi 7:  Menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan serta mendefinisikan kembali criteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan upaya pelestarian lingkungan ekosistem terumbu karang
  • Strategi 8:  Meningkatkan dan memperluas kemitraan antara pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM, dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara berkelanjutan
  • Strategi 9:  Meningkatkan dan mempertegas komitmen pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang


2.  UPAYA PELESTARIAN DAN REHABILITASI TERUMBU KARANG

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam melestarian maupun merehabilitasi terumbu karang.  Di bawah ini tercantum beberapa di antaranya saja.


  • Pembentukan taman nasional laut sebagai kawasan konservasi, untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.  Contohnya Taman Nasional Laut Bunaken, Taman Nasional Laut Wakatobi, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu


  • Penetapan DPL (Daerah Perlindungan Laut) / APL (Area Perlindungan Laut) / KPL (Kawasan Perlindungan Laut) untuk melindungi sumberdaya perikanan beserta ekosistemnya dari ancaman kerusakan.  DPL/APL/KPL ini sebaiknya berbasis masyarakat sehingga masyarakat dapat ikut memantau dan mengelolanya


  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui perlindungan area terumbu karang yang rusak untuk upaya pemulihan.  Suatu area terumbu karang yang mengalami kerusakan namun masih berpotensi untuk dipulihkan, maka dilakukan upaya perlindungan area tersebut dengan menutup area itu sementara dari aktivitas perikanan, untuk membiarkannya pulih kembali.


  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang.  Transplantasi karang ialah sebuah upaya perbanyakan karang dengan menggunakan kemampuan regenerasi karang secara aseksual.  Namun demikian belum diketahui seberapa efektif upaya ini karena kegiatan transplantasi karang masih terbatas dilakukan pada jenis-jenis karang tertentu saja dan tingkat keberhasilannya masih sangat tergantung dari lingkungan perairan di sekitarnya (masih sangat bergantung pada alam)


  • Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui penyediaan substrat keras untuk tempat menempel larva karang.  Upaya ini terdiri dari peletakan substrat keras dari bahan kapur ke dasar laut dan membiarkan larva karang menempel dan hidup serta berkembang.  Selain itu ada juga yang memfasilitasi pembentukan zat kapur dari reaksi kimia melalui pemberian listrik di perairan laut, sehingga terbentuk substrat keras sebagai tempat larva karang untuk menempel


  • Kegiatan pendidikan, pelatihan, kampanye, maupun penyadaran kepada berbagai pihak tentang pentingnya melestarikan ekosistem pesisir, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian terumbu karang


Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak upaya pelestarian dan rehabilitasi terumbu karang yang telah dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia.




Daftar Acuan


Burke, L., E. Selig & M. Spalding. 2002. Reef at Risk in Southeast Asia. World Resources Institute, Washington D.C.: 40 hlm.

Cesar, H.1996.  Economic Analysis of Indonesian Coral Reef. The World Bank, Washington, D.C.: 97 hlm

Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil-DKP. 2005. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil-DKP, Jakarta: vi + 38 hlm.

Hubbard, D. 1997. Reefs as Dynamic Systems.  Dalam: Birkeland, C (ed.). 1997.  Life and Death of Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 43-67.

Muller-Parker, G dan C.F. D’Elia. 1997. Interaction Between Corals and Their Symbiotic Algae. Dalam: Birkeland, C. (ed.).1997.  Life and Death of Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 96-113.

Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji & M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas I. The Ecology of Indonesian Series Vol. VII.  Periplus Edition (HK) Ltd.: xiv + 1-642.


Reefs as Dynamic Systems. Dalam: Birkeland, C (ed.). 1997. Life and Death of Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 43-67.

Muller-Parker, G dan C.F. D’Elia. 1997. Interaction Between Corals and Their Symbiotic Algae. Dalam: Birkeland, C. (ed.).1997. Life and Death of Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 96-113.

Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji & M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas I. The Ecology of Indonesian Series Vol. VII. Periplus Edition (HK) Ltd.: xiv + 1-642.




[1] Materi dalam “Pelatihan Monitoring Terumbu Karang,, Anoi Itam, 1-7 Juni 2006”

[2] Yayasan TERANGI

Share
 

Comments  

 
0 #6 Pengertian Ahli 2014-02-26 14:57
Mantap artikel, thanks telah berbagi.
Quote
 
 
-1 #5 Pengertian Ahli 2014-02-26 14:56
Mantap artikelnya, kampanye pelestarian terumbu karang harus lebih digiatkan.
Quote
 
 
-1 #4 Pengertian Ahli 2014-02-26 14:55
Mantap artikelnya. Sepertinya, kampanye pelestarian terumbu karang harus lebih digiatkan agar masyarakat lebih sadar dan ikut menjaga terumbu karang.
Quote
 
 
-3 #3 Riris 2012-05-30 15:56
saya mau tanya..
bagaimana ya cara untuk menyeimbangkan penggunaan terumbu karang dengan upaya pelestariannya?
terumbu karang punya manfaat sosial ekonomi yang besar, tapi beberapa juga menjadi faktor pengancam kelestariannya juga..

terima kasih :)
Quote
 
 
0 #2 Riris 2012-05-28 12:44
bagaimana ya caranya untuk menyeimbangkan pemanfaatan terumbu karang dengan kelestariannya?
yang saya baca, manfaat sosial dan ekonominya banyak, tapi beberapa jadi faktor pengancam kelestarian terumbu karang itu sendiri..

terima kasih :)
Quote
 
 
0 #1 Riris 2012-05-28 12:25
bagaimana ya caranya untuk menyeimbangkan eksploitasi terumbu karang/biota laut dengan kelestarian terumbu karang/biota laut tersebut?
yang saya baca, manfaat sosial ekonominya banyak, tapi beberapa juga jadi faktor pengancam kelestarian terumbu karang juga..

terima kasih :)
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh