Evaluasi Pelatihan PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Budi Santoso   

Bagian 5:

Evaluasi Pelatihan

 

 

 

 

Bagian ini menguraikan tiga hal mengenai evaluasi pelatihan, yaitu:

ü  Langkah-Langkah Evaluasi Pelatihan

ü  Model Evaluasi Pelatihan

ü  Lembar Evaluasi Pelatihan

 

Evaluasi pelatihan merupakan suatu proses untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam program pelatihan. Evaluasi pelatihan lebih difokuskan pada peninjauan kembali proses pelatihan dan menilai hasil pelatihan serta dampak pelatihan. Evaluasi pelatihan memiliki fungsi sebagai pengendali proses dari hasil program pelatihan sehingga akan dapat dijamin suatu program pelatihan yang sistematis, efektif dan efisien. Evaluasi pelatihan mencoba mendapatkan informasi mengenai hasil-hasil program pelatihan, juga memasukkan umpan balik dari peserta pelatihan yang sangat membantu dalam memperbaiki pelatihan tersebut. Evaluasi pelatihan dilakukan dengan tujuan :

1.  Menemukan bagian-bagian pelatihan mana yang berhasil mencapai tujuan, serta bagian-bagian pelatihan mana yang kurang berhasil, sehingga dapat dibuat langkah-langkah perbaikan.

2.  Memberi kesempatan kepada peserta untuk menyumbangkan saran-saran dan penilaian terhadap program yang dijalankan.

3.  Memberikan masukan untuk perencanaan program.

4.  Memberikan masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian program.

5.  Memberi masukan untuk memodifikasi program.

6.  Memperoleh informasi tentang faktor pendukung dan penghambat program.

 

 

Langkah-Langkah Evaluasi Pelatihan

 

Secara logis dan sistematis langkah-langkah pelaksanaan evaluasi pelatihan sebagai berikut.

 

1.    Persiapan Evaluasi atau Penyusunan Desain Evaluasi

Pada langkah ini terdapat tiga kegiatan pokok yang berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi yaitu: menentukan tujuan atau maksud evaluasi, merumuskan infromasi yang akan dicari atau memfokuskan evaluasi dan menentukan cara pengumpulan data.

Rinciannya sebagai berikut:

  1. a. Menentukan Tujuan / Maksud Evaluasi

Beberapa kriteria yang digunakan dalam merumuskan tujuan evaluasi adalah:

  1. Kejelasan
  2. Keterukuran
  3. Kegunaan dan kemanfaatan
  4. Relevansi dan kesesuaian atau compatibility

Jadi tujuan evaluasi harus jelas, terukur, berguna, relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan program diklat.

  1. b. Merumuskan Informasi atau Memfokuskan Evaluasi: Merumuskan Pertanyaan Evaluasi dan Menentukan Jenis Informasi yang akan Dicari

Dalam merumuskan pertnayaan evaluasi harus berdasarkan kepada tujuan evaluasi. Terdapat beberapa metode dalam merumuskan pertanyaan evaluasi yaitu:

1. Menganalisis objek

2. Menggunakan kerAngka teoritis

3. Memanfaatkan keahlian dan pengalaman dari luar

4. Berinteraksi dengan sponsor atau audien kunci

5. Mendefinisikan Tujuan Evaluasi

6. Membuat pertanyaan tambahan atau bonus

  1. c. Menentukan Cara Pengumpulan Data

Pada langkah ini ditentukan metode evaluasi yang ditempuh, misalnya survei atau yang lain, ditentukan pula pendekatan dalam pengumpulan data. Terdapat beberapa prosedur pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif, yaitu :

  • Observasi
  • Tes
  • Survei atau survei dengan kuisioner.

2.    Mengembangkan Instrumen

Setelah metode pengumpulan data ditentukan, selanjutnya dutentukan pula bentuk unstrumen yang akan digunakan serta lepada siapa instrumen tersebut ditujukan (respondennya). Kemudian, segera dapat dikembangkan butir-butir instrumen.
Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh instrumen evaluasi sebagai berikut:

  1. a. Validitas

Validitas adalah keabsahan instrumen dalam mengukur apa yang seharusnya diukur.

  1. b. Reliabilitas

Reliabilitas adalah ketetapan hasil yang diperoleh, misalnya bila melakukan pengukuran dengan orang yang sama dalam waktu yang berlainan atau orang yang lain dalam waktu yang sama.

  1. c. Objektivitas

Tujuan dari objektifitas ini adalah supaya penerjemahan hasil pengukurasn dalam bilangan atau pemberian skor tidak terpengaruh oleh siapa yang melakukan.

  1. d. Standarisasi

Instrumen evaluasi harus distandarisasi, karena memiliki karakteristik umum seperti item tersusun secara sistematis dan terstuktur, kemudian petunjuk kuhusus pengisian dan pengolahan diberikan dengan jelas, dan disertai pula oleh penunjuk tentang bagaimana kerahasiaan informasi dijaga.

 

 

  1. e. Relevansi

Seberapa jauh dipatuhinya ketentuan-ketentuan atau kriteria yang telah ditetapkan untuk memilih bebrbagai pertanyaan agar sesuai dengan maksud instrumen.

  1. f. Mudah digunakan

Instrumen tersebut hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga mudah digunakan.

3.    Mengumpulkan dan Menganalisis Data serta menafsirkannya

Pada langkah ini sudah mulai untuk terjun ke lapangan mengimplementasikan disain yang telah dibuat, mulai dari mengumpulkan dan menganalisis data, menginterpretasikan, dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami dan komunikatif.

 

  1. a. Mengumpulkan Data

Dalam melakukan pengumpulan data ini dilakukan dengan berbeda-beda pada tiap masing-masing level. Pada level reaksi data yangg dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey melalui kuisioner. Kemudian pada level pembelajaran data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey berupa tes.

Selanjutnya pada level tingkah laku, data yang dikumpulkan melalui observasi atau dapat juga dengan rencana aktifitas (Action Plan) yaitu rencana tahapan tindakan yang akan dilakukan oleh peserta pelatihan dalam mengimplementasikan hasil pelatihan yang telah diikuti, dalam hal ini para peserta harus mempunyai sautu sasaran peningkatan kinerja/kompetensi yang bersangkutan dalam unit kerja masing-masing yang kemudian diukur dengan mengunakan patokan kinerja/kompetensi yang bersangkutan. Kemudian yang terakhir, yaitu pada level keempat level hasil atau dampak, pada data yang dikumpulkan dapat melalui atasan, peserta pelatihan, bawahan atau rekan kerja.

 

Proses Pengumpulan dan Pengukuran Data

Level Evaluasi

Deskripsi

Metode Pengumpulan Data

1. Reaksi

Mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap program pelatihan yang diikuti

Survai dengan skala pengukuran, contohnya dengan skala likert

2. Pembelajaran

Mengukur tingkat pembelajaran yang dialami oleh peserta pelatihan

Formal tes (tertulis)

3. Perilaku

Mengukur implementasi hasil pelatihan

Action plan, observasi

4. Hasil

Mengukur keberhasilan pelatihan dari sudut pandang adanya peningkatan baik kapasitas maupun kompetensi peserta pelatihan

Evaluasi action plan dan data laporan

  1. b. Menganalisis Data dan Menafsirkannya

Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul, maka langkah berikutnya adalah dianalisis. Dalam menganalisa data dan menafsirkannya harus berdasarkan hasil data yang telah berhasil didiapatkan.

4.    Menyusun Laporan

Melaporkan merupakan langkah terakhir kegiatan evaluasi pelatihan. Laporan disusun dengan kesepakatan yang telah disepakati. Langkah terakhir evaluasi ini erat kaitannya dengan tujuan diadakannya evaluasi.

 

Langkah-langkah tersebut dapat dengan digunakan untuk menjawab sejauh mana evaluasi pelatihan yang akan dilakukan dan bagaimana pelaksanaan proses pelatihan dari awal hingga akhir sehingga memberikan hasil untuk improvisasi pada pelatihan-pelatihan selanjutnya.

Model Evaluasi Pelatihan

 

Beberapa model evaluasi pelatihan antara lain :

 

1. Model CIPP (Context, Input, Process, Product)

Model CIPP mrupakan model untuk menyediakan informasi bagi pembuat keputusan, jadi tujuan evaluasi ini adalah untuk membuat keputusan. Komponen model evaluasi ini adalah konteks, input, proses dan produk

Komponen dalam model evaluasi ini sebagai berikut:

  • Context (Konteks)

Berfokus pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang yang melayani pembuatan keputusan dari perencanaan program yang sedang berjalan, berupa diagnostik yakni menemukan kesenjangan antara tujuan dengan dampak yang tercapai.

  • Input (Masukan)

Berfokus pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi disan dan cost-benefit dari rancangan yang melayani pembuatan keputusan tentang perumusan tujuan-tujuan operasional.

  • Process (Proses)

Memiliki fokus lain yaitu menyediakan informasi untuk membuat keputusan day to day decision making untuk melaksanakan program, mambuat catatan atau “record”, atau merekam pelaksanaan program dan mendeteksi atau pun meramalkan pelaksanaan program.

  • Product (Produk)

Berfokus pada mengukur pencapain tujuan selama proses dan pada akhir program.

 

2.    Model Empat Level

Merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald. L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.

Keempat level dapat dirinci sebagai berikut:

 

  • Level 1: Reaksi

Dilakukan untuk mengukur tingkat reaksi yang didisain agar mengetahui opini dari para peserta pelatihan mengenai program pelatihan.

Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah:

  1. Trainer. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian trainer dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan trainer dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.
  2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.
  3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.
  4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.
  5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.
  6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.
  7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.
  8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.
  9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

 

  • Level 2: Pembelajaran

Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan.

Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan.

Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

 

  • Level 3: Perilaku

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku pada peserta pelatihan.

Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

 

  • Level 4: Hasil

Untuk menguji dampak pelatihan terhadap peserta pelatihan baik perseorangan, kelompok, organisasi, dan lembaga secara keseluruhan.

Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan dirasakan oleh peserta pelatihan baik perseorangan, kelompok, organisasi, dan lembaga. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil.

Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.

 

3.    Model ROTI (Return On Training Investment)

Model ROTI yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen perusahaan melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi.

Sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan, dan hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROTI (Return On Training Investment), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari Cost- Benefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.

 

4.    Model Evaluasi Summative

Evaluasi summatif hanya memperhatikan/membandingkan antara tujuan yang ingin dicapai dan hasil yang tercapai, apakah suatu program berhasil atau tidak, tanpa memperhatikan proses yang terjadi. Evaluasi summatif dilakukan dengan cara membandingkan antara tujuan awal dengan hasil akhir yang telah dicapai.

5.    Model Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif, adalah evaluasi yang dilakukan terhadap proses yang terjadi, dengan tujuan untuk memberikan umpan balik bagi pelaksana program pelatihan.

Evaluasi formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program pelatihan masih berlangsung. Tujuan evaluasi formatif tersebut adalah mengetahui seberapa jauh program pelatihan yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan yang terjadi. Dengan diketahuinya hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program pelatihan tidak lancar, penyelenggara/pelaksana program pelatihan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program pelatihan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Lembar Evaluasi Pelatihan









 

Nilai

Keterangan

Nama : ………………………………………………………………………

1

Buruk

2

Kurang

3

Cukup

Organisasi/Lembaga : ………………………………………………………………………………........

4

Baik/Bagus

5

Baik Sekali/Memuaskan

 

Kuisioner ini dipergunakan untuk perbaikan berkelanjutan, mohon diisi dengan sungguh-sungguh. Jika anda lupa atau ragu, sebaiknya dikosongkan saja.



 

No.

Penyelenggaraan Pelatihan

1

2

3

4

5

1

Tema Pelatihan

 

 

 

 

 

2

Ketepatan Waktu Suasana

 

 

 

 

 

3

Kelengkapan Materi

 

 

 

 

 

4

Servis/Sikap Penyelenggara

 

 

 

 

 

5

Alat Bantu

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

No.

Trainer

1

2

3

4

5

1

Penguasaan Content/Substansi Pelatihan

 

 

 

 

 

2

Metode yang digunakan

 

 

 

 

 

3

Cara/Teknik Penyajian

 

 

 

 

 

4

Interaksi dengan Peserta

 

 

 

 

 

5

Pengelolaan Pelatihan (Penguasaan event dan pengelolaan waktu)

 

 

 

 

 

6

Improvisasi

 

 

 

 

 

7

Penggunanaan Alat Bantu

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

No.

Narasumber

1

2

3

4

5

1

Penguasaan Materi

 

 

 

 

 

2

Metode yang digunakan

 

 

 

 

 

3

Cara/Teknik Penyajian

 

 

 

 

 

4

Interaksi dengan Peserta

 

 

 

 

 

5

Pengelolaan waktu

 

 

 

 

 

6

Penggunanaan Alat Bantu

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

No.

Lain-Lain

1

2

3

4

5

1

Ruang Pelatihan

 

 

 

 

 

2

Sound System

 

 

 

 

 

3

Kelengkapan lainnya (………………)

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

Komentar Positif

Saran

Rencana Tindak Penerapan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Lembar Pra Test

 

 

PRA TEST

Pelatihan Pengenalan Ekosistem Pesisir Untuk Kelompok Pemuda Nelayan

 

Nama

 

Nilai


 


Kelompok/Organisasi

 


 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini



 

1. Hewan Tunicata memperoleh makanannya secara:

  1. Secara aktif menggunakan tentakel
  2. Secara pasif dengan menyaring air laut
  3. Secara aktif menggunakan racun unruk melumpuhkan mangsa

2.Secara umum bulu babi merupakan hewan:

  1. Karnivora
  2. Herbivora
  3. Omnivora

3. Ciri khas utama hewan filum Cnidaria adalah

  1. Memiliki kantung penyengat
  2. Permukaan tubuh ditumbuhi duri
  3. Bertubuh lunak dan memiliki cangkang

4. Hewan dari filum manakah yang dapat menangkap mangsanya menggunakan proboscis?

  1. Filum Annelida
  2. Filum Nemertea
  3. Filum Platyhelminthes

5. Kipas laut tergolong dalam filum?

  1. Filum Cnidaria
  2. Filum Porifera
  3. Filum Annelida

6. Hewan dari filum manakah yang merupakan bentuk koloni dari berjuta-juta hewan uniseluler?

  1. Sub Filum Tunicata
  2. Filum Cnidaria
  3. Filum Porifera

7. Sebutkan alasan mengapa hewan Mollusca seperti sotong dan cumi-cumi tidak disebut sebagai hewan bentos?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Mengapa bulu babi sering ditemukan pada daerah terumbu karang yang sudah mati yang rangkanya telah ditumbuhi oleh alga, jelaskan ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Bulu seribu termasuk dalam filum ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Menurut pengamatan anda bagaimanakah keanekaragaman jenis biota laut bentos yang ada di daerah sekitar tempat tinggal anda, coba jelaskan !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sebutkan perbedaan antara lamun dan makroalga!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

12. Bagaimanakah cara lamun berkembang biak?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

13. Sebutkan tipe-tipe thallus makroalga beserta fungsinya!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

14. Apa saja manfaat makroalga bagi manusia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

15. Dimanakah kita bisa menemukan hutan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

16. Sebutkan ciri-ciri ekosistem hutan mangrove!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

17. Apa saja keistimewaan tumbuhan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

18. Mengapa kita perlu menjaga ekosistem hutan mangrove dan padang lamun?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

19. Setahu Anda, adakah ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di sekitar tempat tinggal Anda? Di mana saja?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

20. Bagaimanakah keadaan ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di tempat tersebut? Mengapa (jelaskan alasannya)?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

 

Contoh Lembar Post Test

 

 

POST TEST

Pelatihan Pengenalan Ekosistem Pesisir Untuk Kelompok Pemuda Nelayan

 

Nama

 

Nilai


 


Kelompok/Organisasi

 


 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini



 

1. Hewan Tunicata memperoleh makanannya secara:

  1. Secara aktif menggunakan tentakel
  2. Secara pasif dengan menyaring air laut
  3. Secara aktif menggunakan racun unruk melumpuhkan mangsa

2.Secara umum bulu babi merupakan hewan:

  1. Karnivora
  2. Herbivora
  3. Omnivora

3. Ciri khas utama hewan filum Cnidaria adalah

  1. Memiliki kantung penyengat
  2. Permukaan tubuh ditumbuhi duri
  3. Bertubuh lunak dan memiliki cangkang

4. Hewan dari filum manakah yang dapat menangkap mangsanya menggunakan proboscis?

  1. Filum Annelida
  2. Filum Nemertea
  3. Filum Platyhelminthes

5. Kipas laut tergolong dalam filum?

  1. Filum Cnidaria
  2. Filum Porifera
  3. Filum Annelida

6. Hewan dari filum manakah yang merupakan bentuk koloni dari berjuta-juta hewan uniseluler?

  1. Sub Filum Tunicata
  2. Filum Cnidaria
  3. Filum Porifera

7. Sebutkan alasan mengapa hewan Mollusca seperti sotong dan cumi-cumi tidak disebut sebagai hewan bentos?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Mengapa bulu babi sering ditemukan pada daerah terumbu karang yang sudah mati yang rangkanya telah ditumbuhi oleh alga, jelaskan ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Bulu seribu termasuk dalam filum ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Menurut pengamatan anda bagaimanakah keanekaragaman jenis biota laut bentos yang ada di daerah sekitar tempat tinggal anda, coba jelaskan !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sebutkan perbedaan antara lamun dan makroalga!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

12. Bagaimanakah cara lamun berkembang biak?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

13. Sebutkan tipe-tipe thallus makroalga beserta fungsinya!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

14. Apa saja manfaat makroalga bagi manusia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

15. Dimanakah kita bisa menemukan hutan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

16. Sebutkan ciri-ciri ekosistem hutan mangrove!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

17. Apa saja keistimewaan tumbuhan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

18. Mengapa kita perlu menjaga ekosistem hutan mangrove dan padang lamun?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

19. Setahu Anda, adakah ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di sekitar tempat tinggal Anda? Di mana saja?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

20. Bagaimanakah keadaan ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di tempat tersebut? Mengapa (jelaskan alasannya)?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

 

Bagian 5:

Evaluasi Pelatihan


Bagian ini menguraikan tiga hal mengenai evaluasi pelatihan, yaitu:

ü Langkah-Langkah Evaluasi Pelatihan

ü Model Evaluasi Pelatihan

ü Lembar Evaluasi Pelatihan

Evaluasi pelatihan merupakan suatu proses untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam program pelatihan. Evaluasi pelatihan lebih difokuskan pada peninjauan kembali proses pelatihan dan menilai hasil pelatihan serta dampak pelatihan. Evaluasi pelatihan memiliki fungsi sebagai pengendali proses dari hasil program pelatihan sehingga akan dapat dijamin suatu program pelatihan yang sistematis, efektif dan efisien. Evaluasi pelatihan mencoba mendapatkan informasi mengenai hasil-hasil program pelatihan, juga memasukkan umpan balik dari peserta pelatihan yang sangat membantu dalam memperbaiki pelatihan tersebut. Evaluasi pelatihan dilakukan dengan tujuan :

1. Menemukan bagian-bagian pelatihan mana yang berhasil mencapai tujuan, serta bagian-bagian pelatihan mana yang kurang berhasil, sehingga dapat dibuat langkah-langkah perbaikan.

2. Memberi kesempatan kepada peserta untuk menyumbangkan saran-saran dan penilaian terhadap program yang dijalankan.

3. Memberikan masukan untuk perencanaan program.

4. Memberikan masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian program.

5. Memberi masukan untuk memodifikasi program.

6. Memperoleh informasi tentang faktor pendukung dan penghambat program.

Langkah-Langkah Evaluasi Pelatihan

Secara logis dan sistematis langkah-langkah pelaksanaan evaluasi pelatihan sebagai berikut.

1. Persiapan Evaluasi atau Penyusunan Desain Evaluasi

Pada langkah ini terdapat tiga kegiatan pokok yang berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi yaitu: menentukan tujuan atau maksud evaluasi, merumuskan infromasi yang akan dicari atau memfokuskan evaluasi dan menentukan cara pengumpulan data.

Rinciannya sebagai berikut:

a. Menentukan Tujuan / Maksud Evaluasi

Beberapa kriteria yang digunakan dalam merumuskan tujuan evaluasi adalah:

1. Kejelasan

2. Keterukuran

3. Kegunaan dan kemanfaatan

4. Relevansi dan kesesuaian atau compatibility

Jadi tujuan evaluasi harus jelas, terukur, berguna, relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan program diklat.

b. Merumuskan Informasi atau Memfokuskan Evaluasi: Merumuskan Pertanyaan Evaluasi dan Menentukan Jenis Informasi yang akan Dicari

Dalam merumuskan pertnayaan evaluasi harus berdasarkan kepada tujuan evaluasi. Terdapat beberapa metode dalam merumuskan pertanyaan evaluasi yaitu:

1. Menganalisis objek

2. Menggunakan kerAngka teoritis

3. Memanfaatkan keahlian dan pengalaman dari luar

4. Berinteraksi dengan sponsor atau audien kunci

5. Mendefinisikan Tujuan Evaluasi

6. Membuat pertanyaan tambahan atau bonus

c. Menentukan Cara Pengumpulan Data

Pada langkah ini ditentukan metode evaluasi yang ditempuh, misalnya survei atau yang lain, ditentukan pula pendekatan dalam pengumpulan data. Terdapat beberapa prosedur pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif, yaitu :

Observasi

Tes

Survei atau survei dengan kuisioner.

2. Mengembangkan Instrumen

Setelah metode pengumpulan data ditentukan, selanjutnya dutentukan pula bentuk unstrumen yang akan digunakan serta lepada siapa instrumen tersebut ditujukan (respondennya). Kemudian, segera dapat dikembangkan butir-butir instrumen.
Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh instrumen evaluasi sebagai berikut:

a. Validitas

Validitas adalah keabsahan instrumen dalam mengukur apa yang seharusnya diukur.

b. Reliabilitas

Reliabilitas adalah ketetapan hasil yang diperoleh, misalnya bila melakukan pengukuran dengan orang yang sama dalam waktu yang berlainan atau orang yang lain dalam waktu yang sama.

c. Objektivitas

Tujuan dari objektifitas ini adalah supaya penerjemahan hasil pengukurasn dalam bilangan atau pemberian skor tidak terpengaruh oleh siapa yang melakukan.

d. Standarisasi

Instrumen evaluasi harus distandarisasi, karena memiliki karakteristik umum seperti item tersusun secara sistematis dan terstuktur, kemudian petunjuk kuhusus pengisian dan pengolahan diberikan dengan jelas, dan disertai pula oleh penunjuk tentang bagaimana kerahasiaan informasi dijaga.

e. Relevansi

Seberapa jauh dipatuhinya ketentuan-ketentuan atau kriteria yang telah ditetapkan untuk memilih bebrbagai pertanyaan agar sesuai dengan maksud instrumen.

f. Mudah digunakan

Instrumen tersebut hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga mudah digunakan.

3. Mengumpulkan dan Menganalisis Data serta menafsirkannya

Pada langkah ini sudah mulai untuk terjun ke lapangan mengimplementasikan disain yang telah dibuat, mulai dari mengumpulkan dan menganalisis data, menginterpretasikan, dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami dan komunikatif.

a. Mengumpulkan Data

Dalam melakukan pengumpulan data ini dilakukan dengan berbeda-beda pada tiap masing-masing level. Pada level reaksi data yangg dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey melalui kuisioner. Kemudian pada level pembelajaran data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey berupa tes.

Selanjutnya pada level tingkah laku, data yang dikumpulkan melalui observasi atau dapat juga dengan rencana aktifitas (Action Plan) yaitu rencana tahapan tindakan yang akan dilakukan oleh peserta pelatihan dalam mengimplementasikan hasil pelatihan yang telah diikuti, dalam hal ini para peserta harus mempunyai sautu sasaran peningkatan kinerja/kompetensi yang bersangkutan dalam unit kerja masing-masing yang kemudian diukur dengan mengunakan patokan kinerja/kompetensi yang bersangkutan. Kemudian yang terakhir, yaitu pada level keempat level hasil atau dampak, pada data yang dikumpulkan dapat melalui atasan, peserta pelatihan, bawahan atau rekan kerja.

Proses Pengumpulan dan Pengukuran Data

Level Evaluasi

Deskripsi

Metode Pengumpulan Data

1. Reaksi

Mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap program pelatihan yang diikuti

Survai dengan skala pengukuran, contohnya dengan skala likert

2. Pembelajaran

Mengukur tingkat pembelajaran yang dialami oleh peserta pelatihan

Formal tes (tertulis)

3. Perilaku

Mengukur implementasi hasil pelatihan

Action plan, observasi

4. Hasil

Mengukur keberhasilan pelatihan dari sudut pandang adanya peningkatan baik kapasitas maupun kompetensi peserta pelatihan

Evaluasi action plan dan data laporan

b. Menganalisis Data dan Menafsirkannya

Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul, maka langkah berikutnya adalah dianalisis. Dalam menganalisa data dan menafsirkannya harus berdasarkan hasil data yang telah berhasil didiapatkan.

4. Menyusun Laporan

Melaporkan merupakan langkah terakhir kegiatan evaluasi pelatihan. Laporan disusun dengan kesepakatan yang telah disepakati. Langkah terakhir evaluasi ini erat kaitannya dengan tujuan diadakannya evaluasi.

Langkah-langkah tersebut dapat dengan digunakan untuk menjawab sejauh mana evaluasi pelatihan yang akan dilakukan dan bagaimana pelaksanaan proses pelatihan dari awal hingga akhir sehingga memberikan hasil untuk improvisasi pada pelatihan-pelatihan selanjutnya.

Model Evaluasi Pelatihan

Beberapa model evaluasi pelatihan antara lain :

1. Model CIPP (Context, Input, Process, Product)

Model CIPP mrupakan model untuk menyediakan informasi bagi pembuat keputusan, jadi tujuan evaluasi ini adalah untuk membuat keputusan. Komponen model evaluasi ini adalah konteks, input, proses dan produk

Komponen dalam model evaluasi ini sebagai berikut:

· Context (Konteks)

Berfokus pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang yang melayani pembuatan keputusan dari perencanaan program yang sedang berjalan, berupa diagnostik yakni menemukan kesenjangan antara tujuan dengan dampak yang tercapai.

· Input (Masukan)

Berfokus pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi disan dan cost-benefit dari rancangan yang melayani pembuatan keputusan tentang perumusan tujuan-tujuan operasional.

· Process (Proses)

Memiliki fokus lain yaitu menyediakan informasi untuk membuat keputusan day to day decision making untuk melaksanakan program, mambuat catatan atau “record”, atau merekam pelaksanaan program dan mendeteksi atau pun meramalkan pelaksanaan program.

· Product (Produk)

Berfokus pada mengukur pencapain tujuan selama proses dan pada akhir program.

2. Model Empat Level

Merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald. L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.

Keempat level dapat dirinci sebagai berikut:

· Level 1: Reaksi

Dilakukan untuk mengukur tingkat reaksi yang didisain agar mengetahui opini dari para peserta pelatihan mengenai program pelatihan.

Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah:

1. Trainer. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian trainer dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan trainer dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.

2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.

3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.

4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.

5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.

6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.

7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.

8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.

9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

· Level 2: Pembelajaran

Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan.

Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan.

Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

· Level 3: Perilaku

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku pada peserta pelatihan.

Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

· Level 4: Hasil

Untuk menguji dampak pelatihan terhadap peserta pelatihan baik perseorangan, kelompok, organisasi, dan lembaga secara keseluruhan.

Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan dirasakan oleh peserta pelatihan baik perseorangan, kelompok, organisasi, dan lembaga. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil.

Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.

3. Model ROTI (Return On Training Investment)

Model ROTI yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen perusahaan melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi.

Sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan, dan hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROTI (Return On Training Investment), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari Cost- Benefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.

4. Model Evaluasi Summative

Evaluasi summatif hanya memperhatikan/membandingkan antara tujuan yang ingin dicapai dan hasil yang tercapai, apakah suatu program berhasil atau tidak, tanpa memperhatikan proses yang terjadi. Evaluasi summatif dilakukan dengan cara membandingkan antara tujuan awal dengan hasil akhir yang telah dicapai.

5. Model Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif, adalah evaluasi yang dilakukan terhadap proses yang terjadi, dengan tujuan untuk memberikan umpan balik bagi pelaksana program pelatihan.

Evaluasi formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program pelatihan masih berlangsung. Tujuan evaluasi formatif tersebut adalah mengetahui seberapa jauh program pelatihan yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan yang terjadi. Dengan diketahuinya hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program pelatihan tidak lancar, penyelenggara/pelaksana program pelatihan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program pelatihan.

Contoh Lembar Evaluasi Pelatihan










Nilai

Keterangan

Nama : ………………………………………………………………………

1

Buruk

2

Kurang

3

Cukup

Organisasi/Lembaga : ………………………………………………………………………………........

4

Baik/Bagus

5

Baik Sekali/Memuaskan

Kuisioner ini dipergunakan untuk perbaikan berkelanjutan, mohon diisi dengan sungguh-sungguh. Jika anda lupa atau ragu, sebaiknya dikosongkan saja.




No.

Penyelenggaraan Pelatihan

1

2

3

4

5

1

Tema Pelatihan

2

Ketepatan Waktu Suasana

3

Kelengkapan Materi

4

Servis/Sikap Penyelenggara

5

Alat Bantu

Nilai Keseluruhan

No.

Trainer

1

2

3

4

5

1

Penguasaan Content/Substansi Pelatihan

2

Metode yang digunakan

3

Cara/Teknik Penyajian

4

Interaksi dengan Peserta

5

Pengelolaan Pelatihan (Penguasaan event dan pengelolaan waktu)

6

Improvisasi

7

Penggunanaan Alat Bantu

Nilai Keseluruhan

No.

Narasumber

1

2

3

4

5

1

Penguasaan Materi

2

Metode yang digunakan

3

Cara/Teknik Penyajian

4

Interaksi dengan Peserta

5

Pengelolaan waktu

6

Penggunanaan Alat Bantu

Nilai Keseluruhan

No.

Lain-Lain

1

2

3

4

5

1

Ruang Pelatihan

2

Sound System

3

Kelengkapan lainnya (………………)

Nilai Keseluruhan

Komentar Positif

Saran

Rencana Tindak Penerapan

Contoh Lembar Pra Test


PRA TEST

Pelatihan Pengenalan Ekosistem Pesisir Untuk Kelompok Pemuda Nelayan

Nama

Nilai



Kelompok/Organisasi


Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini




1. Hewan Tunicata memperoleh makanannya secara:

a. Secara aktif menggunakan tentakel

b. Secara pasif dengan menyaring air laut

c. Secara aktif menggunakan racun unruk melumpuhkan mangsa

2.Secara umum bulu babi merupakan hewan:

a. Karnivora

b. Herbivora

c. Omnivora

3. Ciri khas utama hewan filum Cnidaria adalah

a. Memiliki kantung penyengat

b. Permukaan tubuh ditumbuhi duri

c. Bertubuh lunak dan memiliki cangkang

4. Hewan dari filum manakah yang dapat menangkap mangsanya menggunakan proboscis?

a. Filum Annelida

b. Filum Nemertea

c. Filum Platyhelminthes

5. Kipas laut tergolong dalam filum?

a. Filum Cnidaria

b. Filum Porifera

c. Filum Annelida

6. Hewan dari filum manakah yang merupakan bentuk koloni dari berjuta-juta hewan uniseluler?

a. Sub Filum Tunicata

b. Filum Cnidaria

c. Filum Porifera

7. Sebutkan alasan mengapa hewan Mollusca seperti sotong dan cumi-cumi tidak disebut sebagai hewan bentos?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Mengapa bulu babi sering ditemukan pada daerah terumbu karang yang sudah mati yang rangkanya telah ditumbuhi oleh alga, jelaskan ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Bulu seribu termasuk dalam filum ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Menurut pengamatan anda bagaimanakah keanekaragaman jenis biota laut bentos yang ada di daerah sekitar tempat tinggal anda, coba jelaskan !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sebutkan perbedaan antara lamun dan makroalga!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

12. Bagaimanakah cara lamun berkembang biak?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

13. Sebutkan tipe-tipe thallus makroalga beserta fungsinya!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

14. Apa saja manfaat makroalga bagi manusia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

15. Dimanakah kita bisa menemukan hutan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

16. Sebutkan ciri-ciri ekosistem hutan mangrove!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

17. Apa saja keistimewaan tumbuhan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

18. Mengapa kita perlu menjaga ekosistem hutan mangrove dan padang lamun?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

19. Setahu Anda, adakah ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di sekitar tempat tinggal Anda? Di mana saja?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

20. Bagaimanakah keadaan ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di tempat tersebut? Mengapa (jelaskan alasannya)?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Contoh Lembar Post Test


POST TEST

Pelatihan Pengenalan Ekosistem Pesisir Untuk Kelompok Pemuda Nelayan

Nama

Nilai



Kelompok/Organisasi


Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini




1. Hewan Tunicata memperoleh makanannya secara:

d. Secara aktif menggunakan tentakel

e. Secara pasif dengan menyaring air laut

f. Secara aktif menggunakan racun unruk melumpuhkan mangsa

2.Secara umum bulu babi merupakan hewan:

d. Karnivora

e. Herbivora

f. Omnivora

3. Ciri khas utama hewan filum Cnidaria adalah

d. Memiliki kantung penyengat

e. Permukaan tubuh ditumbuhi duri

f. Bertubuh lunak dan memiliki cangkang

4. Hewan dari filum manakah yang dapat menangkap mangsanya menggunakan proboscis?

d. Filum Annelida

e. Filum Nemertea

f. Filum Platyhelminthes

5. Kipas laut tergolong dalam filum?

d. Filum Cnidaria

e. Filum Porifera

f. Filum Annelida

6. Hewan dari filum manakah yang merupakan bentuk koloni dari berjuta-juta hewan uniseluler?

d. Sub Filum Tunicata

e. Filum Cnidaria

f. Filum Porifera

7. Sebutkan alasan mengapa hewan Mollusca seperti sotong dan cumi-cumi tidak disebut sebagai hewan bentos?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Mengapa bulu babi sering ditemukan pada daerah terumbu karang yang sudah mati yang rangkanya telah ditumbuhi oleh alga, jelaskan ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Bulu seribu termasuk dalam filum ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Menurut pengamatan anda bagaimanakah keanekaragaman jenis biota laut bentos yang ada di daerah sekitar tempat tinggal anda, coba jelaskan !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sebutkan perbedaan antara lamun dan makroalga!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

12. Bagaimanakah cara lamun berkembang biak?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

13. Sebutkan tipe-tipe thallus makroalga beserta fungsinya!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

14. Apa saja manfaat makroalga bagi manusia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

15. Dimanakah kita bisa menemukan hutan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

16. Sebutkan ciri-ciri ekosistem hutan mangrove!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

17. Apa saja keistimewaan tumbuhan mangrove?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Bagian 5:

Evaluasi Pelatihan

 

 

 


Bagian ini menguraikan tiga hal mengenai evaluasi pelatihan, yaitu:

ü  Langkah-Langkah Evaluasi Pelatihan

ü  Model Evaluasi Pelatihan

ü  Lembar Evaluasi Pelatihan

 

Evaluasi pelatihan merupakan suatu proses untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam program pelatihan. Evaluasi pelatihan lebih difokuskan pada peninjauan kembali proses pelatihan dan menilai hasil pelatihan serta dampak pelatihan. Evaluasi pelatihan memiliki fungsi sebagai pengendali proses dari hasil program pelatihan sehingga akan dapat dijamin suatu program pelatihan yang sistematis, efektif dan efisien. Evaluasi pelatihan mencoba mendapatkan informasi mengenai hasil-hasil program pelatihan, juga memasukkan umpan balik dari peserta pelatihan yang sangat membantu dalam memperbaiki pelatihan tersebut. Evaluasi pelatihan dilakukan dengan tujuan :

1.  Menemukan bagian-bagian pelatihan mana yang berhasil mencapai tujuan, serta bagian-bagian pelatihan mana yang kurang berhasil, sehingga dapat dibuat langkah-langkah perbaikan.

2.  Memberi kesempatan kepada peserta untuk menyumbangkan saran-saran dan penilaian terhadap program yang dijalankan.

3.  Memberikan masukan untuk perencanaan program.

4.  Memberikan masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian program.

5.  Memberi masukan untuk memodifikasi program.

6.  Memperoleh informasi tentang faktor pendukung dan penghambat program.

 

 

Langkah-Langkah Evaluasi Pelatihan

 

Secara logis dan sistematis langkah-langkah pelaksanaan evaluasi pelatihan sebagai berikut.

 

1.    Persiapan Evaluasi atau Penyusunan Desain Evaluasi

Pada langkah ini terdapat tiga kegiatan pokok yang berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi yaitu: menentukan tujuan atau maksud evaluasi, merumuskan infromasi yang akan dicari atau memfokuskan evaluasi dan menentukan cara pengumpulan data.

Rinciannya sebagai berikut:

  1. a. Menentukan Tujuan / Maksud Evaluasi

Beberapa kriteria yang digunakan dalam merumuskan tujuan evaluasi adalah:

  1. Kejelasan
  2. Keterukuran
  3. Kegunaan dan kemanfaatan
  4. Relevansi dan kesesuaian atau compatibility

Jadi tujuan evaluasi harus jelas, terukur, berguna, relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan program diklat.

  1. b. Merumuskan Informasi atau Memfokuskan Evaluasi: Merumuskan Pertanyaan Evaluasi dan Menentukan Jenis Informasi yang akan Dicari

Dalam merumuskan pertnayaan evaluasi harus berdasarkan kepada tujuan evaluasi. Terdapat beberapa metode dalam merumuskan pertanyaan evaluasi yaitu:

1. Menganalisis objek

2. Menggunakan kerAngka teoritis

3. Memanfaatkan keahlian dan pengalaman dari luar

4. Berinteraksi dengan sponsor atau audien kunci

5. Mendefinisikan Tujuan Evaluasi

6. Membuat pertanyaan tambahan atau bonus

  1. c. Menentukan Cara Pengumpulan Data

Pada langkah ini ditentukan metode evaluasi yang ditempuh, misalnya survei atau yang lain, ditentukan pula pendekatan dalam pengumpulan data. Terdapat beberapa prosedur pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif, yaitu :

  • Observasi
  • Tes
  • Survei atau survei dengan kuisioner.

2.    Mengembangkan Instrumen

Setelah metode pengumpulan data ditentukan, selanjutnya dutentukan pula bentuk unstrumen yang akan digunakan serta lepada siapa instrumen tersebut ditujukan (respondennya). Kemudian, segera dapat dikembangkan butir-butir instrumen.
Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh instrumen evaluasi sebagai berikut:

  1. a. Validitas

Validitas adalah keabsahan instrumen dalam mengukur apa yang seharusnya diukur.

  1. b. Reliabilitas

Reliabilitas adalah ketetapan hasil yang diperoleh, misalnya bila melakukan pengukuran dengan orang yang sama dalam waktu yang berlainan atau orang yang lain dalam waktu yang sama.

  1. c. Objektivitas

Tujuan dari objektifitas ini adalah supaya penerjemahan hasil pengukurasn dalam bilangan atau pemberian skor tidak terpengaruh oleh siapa yang melakukan.

  1. d. Standarisasi

Instrumen evaluasi harus distandarisasi, karena memiliki karakteristik umum seperti item tersusun secara sistematis dan terstuktur, kemudian petunjuk kuhusus pengisian dan pengolahan diberikan dengan jelas, dan disertai pula oleh penunjuk tentang bagaimana kerahasiaan informasi dijaga.

 

 

  1. e. Relevansi

Seberapa jauh dipatuhinya ketentuan-ketentuan atau kriteria yang telah ditetapkan untuk memilih bebrbagai pertanyaan agar sesuai dengan maksud instrumen.

  1. f. Mudah digunakan

Instrumen tersebut hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga mudah digunakan.

3.    Mengumpulkan dan Menganalisis Data serta menafsirkannya

Pada langkah ini sudah mulai untuk terjun ke lapangan mengimplementasikan disain yang telah dibuat, mulai dari mengumpulkan dan menganalisis data, menginterpretasikan, dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami dan komunikatif.

 

  1. a. Mengumpulkan Data

Dalam melakukan pengumpulan data ini dilakukan dengan berbeda-beda pada tiap masing-masing level. Pada level reaksi data yangg dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey melalui kuisioner. Kemudian pada level pembelajaran data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey berupa tes.

Selanjutnya pada level tingkah laku, data yang dikumpulkan melalui observasi atau dapat juga dengan rencana aktifitas (Action Plan) yaitu rencana tahapan tindakan yang akan dilakukan oleh peserta pelatihan dalam mengimplementasikan hasil pelatihan yang telah diikuti, dalam hal ini para peserta harus mempunyai sautu sasaran peningkatan kinerja/kompetensi yang bersangkutan dalam unit kerja masing-masing yang kemudian diukur dengan mengunakan patokan kinerja/kompetensi yang bersangkutan. Kemudian yang terakhir, yaitu pada level keempat level hasil atau dampak, pada data yang dikumpulkan dapat melalui atasan, peserta pelatihan, bawahan atau rekan kerja.

 

Proses Pengumpulan dan Pengukuran Data

Level Evaluasi

Deskripsi

Metode Pengumpulan Data

1. Reaksi

Mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap program pelatihan yang diikuti

Survai dengan skala pengukuran, contohnya dengan skala likert

2. Pembelajaran

Mengukur tingkat pembelajaran yang dialami oleh peserta pelatihan

Formal tes (tertulis)

3. Perilaku

Mengukur implementasi hasil pelatihan

Action plan, observasi

4. Hasil

Mengukur keberhasilan pelatihan dari sudut pandang adanya peningkatan baik kapasitas maupun kompetensi peserta pelatihan

Evaluasi action plan dan data laporan

  1. b. Menganalisis Data dan Menafsirkannya

Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul, maka langkah berikutnya adalah dianalisis. Dalam menganalisa data dan menafsirkannya harus berdasarkan hasil data yang telah berhasil didiapatkan.

4.    Menyusun Laporan

Melaporkan merupakan langkah terakhir kegiatan evaluasi pelatihan. Laporan disusun dengan kesepakatan yang telah disepakati. Langkah terakhir evaluasi ini erat kaitannya dengan tujuan diadakannya evaluasi.

 

Langkah-langkah tersebut dapat dengan digunakan untuk menjawab sejauh mana evaluasi pelatihan yang akan dilakukan dan bagaimana pelaksanaan proses pelatihan dari awal hingga akhir sehingga memberikan hasil untuk improvisasi pada pelatihan-pelatihan selanjutnya.

Model Evaluasi Pelatihan

 

Beberapa model evaluasi pelatihan antara lain :

 

1. Model CIPP (Context, Input, Process, Product)

Model CIPP mrupakan model untuk menyediakan informasi bagi pembuat keputusan, jadi tujuan evaluasi ini adalah untuk membuat keputusan. Komponen model evaluasi ini adalah konteks, input, proses dan produk

Komponen dalam model evaluasi ini sebagai berikut:

  • Context (Konteks)

Berfokus pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang yang melayani pembuatan keputusan dari perencanaan program yang sedang berjalan, berupa diagnostik yakni menemukan kesenjangan antara tujuan dengan dampak yang tercapai.

  • Input (Masukan)

Berfokus pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi disan dan cost-benefit dari rancangan yang melayani pembuatan keputusan tentang perumusan tujuan-tujuan operasional.

  • Process (Proses)

Memiliki fokus lain yaitu menyediakan informasi untuk membuat keputusan day to day decision making untuk melaksanakan program, mambuat catatan atau “record”, atau merekam pelaksanaan program dan mendeteksi atau pun meramalkan pelaksanaan program.

  • Product (Produk)

Berfokus pada mengukur pencapain tujuan selama proses dan pada akhir program.

 

2.    Model Empat Level

Merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald. L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.

Keempat level dapat dirinci sebagai berikut:

 

  • Level 1: Reaksi

Dilakukan untuk mengukur tingkat reaksi yang didisain agar mengetahui opini dari para peserta pelatihan mengenai program pelatihan.

Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah:

  1. Trainer. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian trainer dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan trainer dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.
  2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.
  3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.
  4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.
  5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.
  6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.
  7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.
  8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.
  9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

 

  • Level 2: Pembelajaran

Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan.

Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan.

Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

 

  • Level 3: Perilaku

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku pada peserta pelatihan.

Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

 

  • Level 4: Hasil

Untuk menguji dampak pelatihan terhadap peserta pelatihan baik perseorangan, kelompok, organisasi, dan lembaga secara keseluruhan.

Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan dirasakan oleh peserta pelatihan baik perseorangan, kelompok, organisasi, dan lembaga. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil.

Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.

 

3.    Model ROTI (Return On Training Investment)

Model ROTI yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen perusahaan melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi.

Sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan, dan hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROTI (Return On Training Investment), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari Cost- Benefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.

 

4.    Model Evaluasi Summative

Evaluasi summatif hanya memperhatikan/membandingkan antara tujuan yang ingin dicapai dan hasil yang tercapai, apakah suatu program berhasil atau tidak, tanpa memperhatikan proses yang terjadi. Evaluasi summatif dilakukan dengan cara membandingkan antara tujuan awal dengan hasil akhir yang telah dicapai.

5.    Model Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif, adalah evaluasi yang dilakukan terhadap proses yang terjadi, dengan tujuan untuk memberikan umpan balik bagi pelaksana program pelatihan.

Evaluasi formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program pelatihan masih berlangsung. Tujuan evaluasi formatif tersebut adalah mengetahui seberapa jauh program pelatihan yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan yang terjadi. Dengan diketahuinya hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program pelatihan tidak lancar, penyelenggara/pelaksana program pelatihan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program pelatihan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Lembar Evaluasi Pelatihan










Nilai

Keterangan

Nama : ………………………………………………………………………

1

Buruk

2

Kurang

3

Cukup

Organisasi/Lembaga : ………………………………………………………………………………........

4

Baik/Bagus

5

Baik Sekali/Memuaskan

 

Kuisioner ini dipergunakan untuk perbaikan berkelanjutan, mohon diisi dengan sungguh-sungguh. Jika anda lupa atau ragu, sebaiknya dikosongkan saja.




No.

Penyelenggaraan Pelatihan

1

2

3

4

5

1

Tema Pelatihan

 

 

 

 

 

2

Ketepatan Waktu Suasana

 

 

 

 

 

3

Kelengkapan Materi

 

 

 

 

 

4

Servis/Sikap Penyelenggara

 

 

 

 

 

5

Alat Bantu

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

No.

Trainer

1

2

3

4

5

1

Penguasaan Content/Substansi Pelatihan

 

 

 

 

 

2

Metode yang digunakan

 

 

 

 

 

3

Cara/Teknik Penyajian

 

 

 

 

 

4

Interaksi dengan Peserta

 

 

 

 

 

5

Pengelolaan Pelatihan (Penguasaan event dan pengelolaan waktu)

 

 

 

 

 

6

Improvisasi

 

 

 

 

 

7

Penggunanaan Alat Bantu

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

No.

Narasumber

1

2

3

4

5

1

Penguasaan Materi

 

 

 

 

 

2

Metode yang digunakan

 

 

 

 

 

3

Cara/Teknik Penyajian

 

 

 

 

 

4

Interaksi dengan Peserta

 

 

 

 

 

5

Pengelolaan waktu

 

 

 

 

 

6

Penggunanaan Alat Bantu

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

No.

Lain-Lain

1

2

3

4

5

1

Ruang Pelatihan

 

 

 

 

 

2

Sound System

 

 

 

 

 

3

Kelengkapan lainnya (………………)

 

 

 

 

 

Nilai Keseluruhan

 

 

 

 

 

 

Komentar Positif

Saran

Rencana Tindak Penerapan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Lembar Pra Test

 


PRA TEST

Pelatihan Pengenalan Ekosistem Pesisir Untuk Kelompok Pemuda Nelayan

 

Nama

 

Nilai


 


Kelompok/Organisasi

 


 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini




1. Hewan Tunicata memperoleh makanannya secara:

  1. Secara aktif menggunakan tentakel
  2. Secara pasif dengan menyaring air laut
  3. Secara aktif menggunakan racun unruk melumpuhkan mangsa

2.Secara umum bulu babi merupakan hewan:

  1. Karnivora
  2. Herbivora
  3. Omnivora

3. Ciri khas utama hewan filum Cnidaria adalah

  1. Memiliki kantung penyengat
  2. Permukaan tubuh ditumbuhi duri
  3. Bertubuh lunak dan memiliki cangkang

4. Hewan dari filum manakah yang dapat menangkap mangsanya menggunakan proboscis?

  1. Filum Annelida
  2. Filum Nemertea
  3. Filum Platyhelminthes

5. Kipas laut tergolong dalam filum?

  1. Filum Cnidaria
  2. Filum Porifera
  3. Filum Annelida

6. Hewan dari filum manakah yang merupakan bentuk koloni dari berjuta-juta hewan uniseluler?

  1. Sub Filum Tunicata
  2. Filum Cnidaria
  3. Filum Porifera

7. Sebutkan alasan mengapa hewan Mollusca seperti sotong dan cumi-cumi tidak disebut sebagai hewan bentos?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Mengapa bulu babi sering ditemukan pada daerah terumbu karang yang sudah mati yang rangkanya telah ditumbuhi oleh alga, jelaskan ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Bulu seribu termasuk dalam filum ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Menurut pengamatan anda bagaimanakah keanekaragaman jenis biota laut bentos yang ada di daerah sekitar tempat tinggal anda, coba jelaskan !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sebutkan perbedaan antara lamun dan makroalga!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

12. Bagaimanakah cara lamun berkembang biak?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

13. Sebutkan tipe-tipe thallus makroalga beserta fungsinya!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

14. Apa saja manfaat makroalga bagi manusia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

15. Dimanakah kita bisa menemukan hutan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

16. Sebutkan ciri-ciri ekosistem hutan mangrove!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

17. Apa saja keistimewaan tumbuhan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

18. Mengapa kita perlu menjaga ekosistem hutan mangrove dan padang lamun?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

19. Setahu Anda, adakah ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di sekitar tempat tinggal Anda? Di mana saja?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

20. Bagaimanakah keadaan ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di tempat tersebut? Mengapa (jelaskan alasannya)?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

 

Contoh Lembar Post Test

 


POST TEST

Pelatihan Pengenalan Ekosistem Pesisir Untuk Kelompok Pemuda Nelayan

 

Nama

 

Nilai


 


Kelompok/Organisasi

 


 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini




1. Hewan Tunicata memperoleh makanannya secara:

  1. Secara aktif menggunakan tentakel
  2. Secara pasif dengan menyaring air laut
  3. Secara aktif menggunakan racun unruk melumpuhkan mangsa

2.Secara umum bulu babi merupakan hewan:

  1. Karnivora
  2. Herbivora
  3. Omnivora

3. Ciri khas utama hewan filum Cnidaria adalah

  1. Memiliki kantung penyengat
  2. Permukaan tubuh ditumbuhi duri
  3. Bertubuh lunak dan memiliki cangkang

4. Hewan dari filum manakah yang dapat menangkap mangsanya menggunakan proboscis?

  1. Filum Annelida
  2. Filum Nemertea
  3. Filum Platyhelminthes

5. Kipas laut tergolong dalam filum?

  1. Filum Cnidaria
  2. Filum Porifera
  3. Filum Annelida

6. Hewan dari filum manakah yang merupakan bentuk koloni dari berjuta-juta hewan uniseluler?

  1. Sub Filum Tunicata
  2. Filum Cnidaria
  3. Filum Porifera

7. Sebutkan alasan mengapa hewan Mollusca seperti sotong dan cumi-cumi tidak disebut sebagai hewan bentos?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8. Mengapa bulu babi sering ditemukan pada daerah terumbu karang yang sudah mati yang rangkanya telah ditumbuhi oleh alga, jelaskan ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

9. Bulu seribu termasuk dalam filum ?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

10. Menurut pengamatan anda bagaimanakah keanekaragaman jenis biota laut bentos yang ada di daerah sekitar tempat tinggal anda, coba jelaskan !

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

11. Sebutkan perbedaan antara lamun dan makroalga!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

12. Bagaimanakah cara lamun berkembang biak?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

13. Sebutkan tipe-tipe thallus makroalga beserta fungsinya!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

14. Apa saja manfaat makroalga bagi manusia?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

15. Dimanakah kita bisa menemukan hutan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

16. Sebutkan ciri-ciri ekosistem hutan mangrove!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

17. Apa saja keistimewaan tumbuhan mangrove?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

18. Mengapa kita perlu menjaga ekosistem hutan mangrove dan padang lamun?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

19. Setahu Anda, adakah ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di sekitar tempat tinggal Anda? Di mana saja?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

20. Bagaimanakah keadaan ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di tempat tersebut? Mengapa (jelaskan alasannya)?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

 

.

18. Mengapa kita perlu menjaga ekosistem hutan mangrove dan padang lamun?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

19. Setahu Anda, adakah ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di sekitar tempat tinggal Anda? Di mana saja?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

20. Bagaimanakah keadaan ekosistem hutan mangrove dan padang lamun di tempat tersebut? Mengapa (jelaskan alasannya)?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Share