Skema Pelatihan PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Budi Santoso   

Bagian 3:

Skema Pelatihan

 

 



 

Bagian ini menguraikan dua hal mengenai skema pelatihan, yaitu:

ü  Alur Pelatihan

ü  Desain Pelatihan

 

Alur Pelatihan

 

Pelatihan adalah sebuah aktifitas yang cukup kompleks dan harus direncanakan dengan matang sehingga dapat menjawab kebutuhan dan memberikan hasil yang tepat.

Ada 3 (tiga) tahap dalam pelaksanaan proses pelatihan yang biasanya dilalui, dan ini menjadi sebuah alur yang membentuk suatu siklus dalam penyelenggaraan pelatihan. Tahap-tahap itu adalah:

  1. Pra Pelatihan (Pre Training)
  2. Pelaksanaan Pelatihan (On Going Training)
  3. Pasca Pelatihan (Post Training)

 

Adapun gambaran alur/siklus tersebut adalah seperti sebagai berikut:



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4: Alur Pelatihan

Elemen masing -masing tahap/alur pelatihan adalah sebagai berikut :

 

  1. 1. Pra Pelatihan (Pre Training)

 

  1. Identifikasi dan analisis kebutuhan pelatihan (training need assessment)

Training Need Assessment merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Cara ini diperlukan untuk melihat sejauh mana permasalahan yang ada sehingga pelatihan yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang ada dan dapat menjawab kebutuhan tersebut. Beberapa teknik dan pendekatan dalam melakukan Training Need Assessment sudah dijabarkan dalam penjelasan sebelumnya.

 

  1. Merumuskan sasaran/tujuan pelatihan

Setelah identifikasi dan analisis kebutuhan dilakukan maka dapat ditentukan sasaran atau outcome dari pelatihan yang akan diberikan.

Pada dasarnya tujuan pelatihan dapat dibedakan dalam tiga kategori pokok domain, yang meliputi:

  • Cognitive domain

Adalah tujuan pelatihan yang berkaitan dengan meningkatkan pengetahuan peserta pelatihan.

  • Affective domain

Adalah tujuan pelatihan yang berkaitan dengan sikap dan tingkah laku peserta pelatihan.

  • Psychomotor domain

Yaitu tujuan pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan/skill peserta pelatihan.

 

Selain itu, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun dan merumuskan tujuan pelatihan, yaitu:

  • Jenis tujuan pelatihan

Yaitu hendaknya jenis tujuan pelatihan harus mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dan hasil yang diharapkan merupakan perubahan tingkah laku/sikap, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diobservasi/diamati.

  • Kedalaman tujuan pelatihan

Semakin dalam tujuan pelatihan semakin rumit untuk mencapainya, sehingga akan mempengaruhi materi maupun metode pelatihan yang harus diberikan.

  • Sumber daya yang tersedia

Dalam merumuskan tujuan pelatihan hendaknya juga mempertimbangkan sumberdaya yang tersedia.

  • Waktu

Faktor waktu sangat menentukan dalam merumuskan tujuan pelatihan.

  • Peserta pelatihan

Faktor peserta juga sangat berpengaruh di dalam merumuskan tujuan pelatihan baik dilihat dari latar belakang, pengalaman, usia, pendidikan dan lain sebagainya.

  • Metode dan media

Dalam menyusun materi pelatihan hendaknya juga mempertimbangkan kesesuaian metode dan media yang ada.

  • Ketersediaan pemateri/trainer

Adalah pemateri yang mempunyai kualifikasi sebagaimana yang dikehendaki dalam pencapaian tujuan yang diharapkan.

(Benjamin Bloom, et. al., Handbook on Formative and Summative Evaluation of Student Learning, New York: McGraw-Hill, 1971 ).

 

  1. Mempersiapkan kurikulum dan materi

Kurikulum pelatihan adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan pelatihan yang ditata dalam bentuk rencana proses pelatihan dengan penekanan pada penggunaan berbagai metode pelatihan sesuai dengan tujuan pelatihan sehingga setelah pelatihan peserta memperoleh peningkatan kompetensi yang dibutuhkan.

Kurikulum dirancang berbasis kompetensi yang harus dicapai dan diuraikan dalam:

1) Materi pelatihan

2) Metode penyampaian (pembelajaran)

3) Proses pembelajaran setiap materi

4) Proporsi dan alokasi waktu

 

Pelatihan merupakan transformasi 3 tahap: pertama dari materi menjadi pemahaman, kedua dari pemahaman menjadi relevansi, ketiga dari relevansi menjadi penerapan. Penentuan dimana dan oleh siapa pelatihan dilakukan harus mempertimbangkan prinsip transformasi ini. Pada transformasi materi menjadi pemahaman, trainer mengolah materi pelatihan, menentukan metode dan alat pelatihan yang tepat agar terbentuk pemahaman yang sebaik mungkin pada peserta pelatihan. Pada transformasi pemahaman menjadi relevansi, kasus-kasus yang spesifik yang ditemui di lapang dan potensi penerapan dari materi pelatihan dibahas bersama oleh trainer dan peserta pelatihan. Pada transformasi dari relevansi menjadi penerapan, dilakukan upaya untuk menerapkan materi pelatihan oleh peserta pelatihan dan mengambil manfaat dari penerapan tersebut.

Langkah-langkah penting di dalam mempersiapkan materi untuk sebuah pelatihan adalah sebagai berikut:

  • Menentukan dan memprioritaskan isi/muatan materi pelatihan

Pada dasarnya, bilamana penjajagan atau identifikasi kebutuhan pelatihan dilakukan dengan baik dan benar serta perumusan tujuan pelatihan dan tingkat kedalamannya disusun dan dirumuskan dengan baik, maka sebenarnya sudah dapat teridentifikasi apa isi materi pelatihan yang diharapkan.

  • Menentukan metode dan media pelatihan

Di dalam menentukan metode pelatihan, hal yang paling mendasar untuk diperhatikan adalah adanya keterlibatan maksimal peserta pelatihan.

  • Menentukan kebutuhan waktu

Biasanya, dalam menentukan perkiraan kebutuhan waktu didasarkan pada skala prioritas. Artinya bahwa topik utama yang menjadi prioritas akan mendapatkan alokasi waktu yang cukup panjang, sedangkan topik yang lain memperoleh alokasi waktu yang relatif pendek.

 

 

 

 

 

  1. 2. Pelaksanaan Pelatihan (On Going Training)

 

  1. Memilih dan menentukan metode

Dalam memilih dan menentukan metode suatu pelatihan ditentukan oleh banyak hal. Seperti dikemukakan William B. Werther (1989 : 290) sebagai berikut : that is no simple technique is always best; the best method depends on : cost effectiveness; desired program content; learning principles; appropriateness of the facilities; trainee preference and capabilities; and trainer preferences and capabilities. Artinya tidak ada satu metode pelatihan yang paling baik, metode yang paling baik tergantung pada efektivitas biaya, isi pelatihan yang diinginkan, prinsip-prinsip belajar, fasilitas yang layak, kemampuan dan preferensi peserta serta kemampuan dan preferensi trainer.

Berikut ini beberapa petunjuk yang dapat digunakan ketika memilih dan menentukan metode pelatihan, antara lain:

 

  • Apakah tujuan pelatihan ?

Tujuan pelatihan bisa berhubungan dengan peningkatan kesadaran, pemahaman, penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan perubahan sikap.

  • Berapa banyak pengalaman yang dimiliki peserta yang berhubungan dengan topik pelatihan ?

Jika mereka memiliki pengalaman, maka trainer harus mempertimbangkannya, dan memberi mereka kesempatan untuk mengingat dan berbagi. Kita bisa menggunakan studi kasus, permainan peran, simulasi, curah pendapat dll. sebagai cara untuk berbagi pengalaman.

  • Bagaimanakah profil peserta ?

Berapa umur, latar belakang pendidikan dan kondisi sosial peserta pelatihan ?. Bagaimana peserta pelatihan biasa belajar? Apakah peserta pelatihan pernah mengikuti program pelatihan sebelumnya ?.

  • Bagaimana pengalaman trainer ?

Apakah kekuatan dan kelemahan trainer ?. Sebagai seorang trainer, harus merasa nyaman dalam menggunakan metode pelatihan.

  • Seperti apakah situasi praktisnya?

Trainer harus memeriksa, ketersediaan waktu, bahan-bahan, sumber daya, fasilitas, dan tempat pelatihan.

 

Selain itu juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan menyangkut pemilihan metode yang akan digunakan dalam pelatihan. Hal itu terkait bagaimana daya serap dan respon peserta pelatihan pada saat mengikuti pelatihan. Menurut teori, daya serap umum dari orang terhadap suatu materi yang sedang dipelajari tergantung dari sensor-sensor yang digunakan untuk menerima materi tersebut. Seseorang akan menyerap materi pelatihan sebanyak:

  • 20% bila hanya menggunakan rangsangan audio

Yang dimaksud rangsangan audio adalah bila hanya mendengarkan untuk belajar. Contoh paling persis adalah bila menggunakan sarana audio book untuk belajar. Metode ceramah satu arah, tanpa ilustrasi dan tanpa diskusi juga dapat disebut dengan pembelajaran hanya dengan audio.

 

 

 

  • 30% bila hanya menggunakan rangsangan visual

Yang dimaksud dengan rangsangan visual adalah menggunakan mata untuk melihat suatu objek nyata yang terkait dengan materi pelatihan. Contoh, bila seorang mendemonstrasikan cara mengoperasikan mesin, berarti dia membuat rangsangan visul terhadap peserta pelatihan. Membaca tidak bisa dimasukkan sebagai penggunaan rangsangan visual sebenarnya karena yang dilihat adalah teks, bukan benda nyata. Seorang yang sedang membaca harus melakukan proses 'visualisasi' untuk dapat mengingat apa yang dibacanya. Daya serapnya tergantung dari seberapa mampu dia memvisualisasikan teks (seolah-olah melihat), yang pasti lebih rendah dibanding bila dia melihat langsung.

 

  • 50% bila menggunakan rangsangan audio visual

  • 70% bila menggunakan rangsangan audio visual ditambah keterlibatan aktif (misalnya dengan diskusi)

  • 90% bila menggunakan rangsangan audio visual, diskusi ditambah dengan reproduksi dan gerakan/efek kinestetik

Contoh dari reproduksi adalah bila peserta pelatihan diminta untuk mereproduksi atau menjelaskan kembali apa yang beberapa saat lalu dia serap. Yang dimaksud gerakan adalah praktek yang melibatkan gerakan fisik. Peserta diminta untuk bergerak, menyentuh sesuatu atau melakukan sesuatu.

 

Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa makin banyak sensor yang digunakan untuk menyerap materi, makin besar daya serap yang bisa diharapkan. Juga, makin besar keterlibatan peserta pelatihan, makin besar materi yang diserap peserta pelatihan. Pengetahuan ini berguna bagi kita untuk menentukan metode pelatihan yang tepat.

Walaupun demikian, penyelengara/pengelola pelatihan hendaknya mengenal dan memahami semua metode pelatihan, sehingga dapat memilih dan menentukan metode mana yang paling tepat digunakan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi yang ada. Adapun untuk metode-metode pelatihannya itu sendiri berikut penjelasan-penjelasannya akan dibahas pada bagian mekanisme pelatihan.

 

  1. Memilih dan menentukan teknik pelatihan yang digunakan

Teknik pelatihan yang digunakan tidak lepas dari metode pelatihan yang dipilih. Teknik yang dimaksud disini adalah cara bagaimana meteri tersampaikan kepada peserta pelatihan dan bagaimana para trainer menyampaikan materi tersebut.

Ada beberapa unsur yang harus diperhatikan sebelum menentukan teknik pelatihan yang akan dipakai, yaitu:

 

  1. Ketertarikan dasar manusia

Merupakan sebuah dasar representasi manusia dalam menirima informasi, yaitu:

  • Visual, mampu menerima informasi berdasarkan hal hal yang dapat dilihat
    • Auditory, mampu menerima informasi berdasarkan hal hal yang dapat didengar
    • Kinesthetic, mampu menerima informasi berdasarkan hal-hal yang dapat dirasakan.

Representasi manusia tidak sama dan berbeda-beda dalam sebuah pelatihan, agar dapat menjangkau setiap representasi para peserta, maka penyampaian materi harus menggunakan teknik yang dapat mencapai ketiga representasi tersebut. Dengan demikian setiap peserta pelatihan akan dapat menerima informasi yang disampaikan tanpa harus repot untuk mencari tahu satu persatu apa representasi masing masing peserta.

 

  1. Pacing-leading

Pacing adalah penyelarasan, dimana trainer mampu menyelarskan diri dengan kondisi peserta. Pacing di sini berfungsi selain sebagai penyelaras, juga meningkatkan sensitifitas trainer dalam memberikan sebuah pelatihan.

Leading adalah sebuah teknik yang dilakukan setelah mengadakan pacing/penyelarasan, dimana berfungsi untuk mengajak peserta, atau mempengaruhi pemikiran peserta sehingga mampu melaksanakan tujuan pelatihan dengan baik.

 

  1. Ice breaking

Ice Breaking bertujuan memecahkan kebosanan atau “kekeringan” sebuah pelatihan. Ice breaking bisa dilakukan dengan sebuah games, humor, atau diskusi yang mengajak setiap peserta secara aktif kembali memasuki suasana pelatihan.

 

Ada banyak macam teknik, namun pada hakikatnya teknik pelatihan merupakan cara jitu para trainer atau penyelenggara pelatihan dalam mengoptimalkan proses tranformasi pengetahuan maupun keterampilan kepada peserta pelatihan. Tentunya dengan berbagai pertimbangan dan perencanaan yang sudah dilakukan pada tahap sebelumnya. Untuk selanjutnya mengenai teknik pelatihan akan dijabarkan pada langkah selanjutnya yaitu pada bagian mekanisme pelatihan.

 

  1. 3. Pasca Pelatihan (Post Training)

 

Evaluasi pelatihan memiliki fungsi sebagai pengendali proses dan hasil program pelatihan sehingga akan dapat dijamin suatu program pelatihan yang sistematis, efektif dan efisien. Evaluasi pelatihan merupakan suatu proses untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam program pelatihan. Evaluasi pelatihan lebih difokuskan pada peninjauan kembali proses pelatihan dan menilai hasil pelatihan serta dampak pelatihan. Berbagai macam tujuan evaluasi, yaitu:

  • Memberikan masukan untuk perencanaan program pelatihan
  • Memberikan masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian program pelatihan
  • Memberi masukan untuk memodifikasi program pelatihan
  • Memperoleh informasi tentang faktor pendukung dan penghambat program pelatihan.

 

Setelah program pelatihan dilaksanakan, maka pemantauan hasil pelatihan perlu dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana tujuan pelatihan telah dicapai. Pemantauan hasil pelatihan harus dilaksanakan secara sistematis dengan tolak ukur yang mencakup reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil. Lebih jauh langkah-langkah ini akan di bahas pada bagian akhir buku ini.

Desain Pelatihan

 

Istilah desain pelatihan bermakna adanya keseluruhan, struktur, kerangka, atau outline, dan urutan atau sistematika kegiatan pelatihan (Gagnon dan Collay, 2001). Selain itu, desain pelatihan juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan yang sistematik yang dilakukan sebelum kegiatan pengembangan atau pelaksanaan sebuah pelatihan.

Konsep desain pelatihan dikemukakan dalam bentuk model. Sebuah model menggambarkan suatu prosedur atau kesatuan konsep dengan komponen-komponen yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Model desain pelatihan merupakan sarana konseptual untuk menganalisis, merancang, memproduksi, menerapkan, dan mengevaluasi sebuah aktivitas atau program pelatihan. Dibawah ini adalah beberapa model desain pelatihan berikut penjelasan-penjelasannya:

 

  1. 1. Model Dick and Carey

Salah satu model desain pelatihan adalah model Dick and Carey (1985). Model ini termasuk ke dalam model yang berorientasi kepada prosedural.

Berikut merupakan model desain pelatihan yang dikembangkan oleh Dick and Carey

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5: Desain pelatihan model Dick and Carey

 

  1. Identifikasi tujuan pelatihan

Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam menerapkan model desain pelatihan ini adalah menentukan kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki oleh peserta pelatihan setelah menempuh program pelatihan. Hal ini disebut dengan istilah tujuan pelatihan atau instructional goal.

Rumusan tujuan pelatihan dapat dikembangkan baik dari rumusan tujuan pelatihan yang sudah ada pada proposal maupun yang dihasilkan dari proses analisis kebutuhan (training need assasement).

 

  1. Analysis instructional

Setelah melakukan identifikasi tujuan pelatihan, alngkah selanjutnya adalah melakukan analisis nestruksional, yaitu sebuah prosedur yang digunakan untuk menentukan keterampilan dan pengetahuan relevan yang diperlukan oleh peserta pelatihan untuk mencapai kompetensi atau tujuan pelatihan. Dalam melakukan analisis intruksional, beberapa langkah diperlukan untuk mengidintifikasi kompetensi, berupa pengetahuan (cognitive), keterampilan (psychomotor), dan sikap (attitudes) yang perlu dimiliki oleh peserta pelatihan setelah mengikuti program pelatihan.

 

  1. Analisis peserta pelatihan dan konteks

Selain melakukan analisis tujuan pelatihan , hal penting yang perlu dilakukan dalam menerapkan model desain pelatihan ini adalah analisis terhadap karakteristik peserta pelatihan yang akan mengikuti pelatihan dan konteks pelatihan. Kedua langkah ini dapat dilakukan secara bersamaan atau paralel. Analisis konteks pelatihan meliputi kondisi-kondisi terkait dengan keterampilan yang dipelajari oleh peserta pelatihan dan situasi yang terkait dengan tugas yang dihadapi oleh peserta pelatihan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari. Analisis terhadap karakteristik peserta pelatihan meliputi kemampuan actual yang dimiliki oleh peserta pelatihan, gaya atau preferensi cara belajar (learning style), dan sikap terhadap aktifitas pelatihan. Identifikasi yang akurat tentang karakteristik peserta pelatihan yang akan belajar dapat membantu perancang program pelatihan dalam memilih dan menentukan strategi pelatihan yang akan digunakan.

 

  1. Merumuskan tujuan pelatihan khusus

Berdasarkan hasil analisis instruksional, seorang perancang desain system pelatihan perlu mengembangkan kompetensi atau tujuan pelatihan spesifik (instructional objectives) yang perlu dikuasai oleh peserta pelatihan untuk mencapai tujuan pelatihan yang bersifat umum (instructional goal). Dalam merumuskan tujuan pelatihan yang bersifat spesifik, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu:

  • Menentukan pengetahuan dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh peserta pelatihan setelah menempuh proses pelatihan
  • Kondisi yang diperlukan agar peserta pelatihan dapat melakukan unjuk kemampuan dari pengetahuan yang telah dipelajari
  • Indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta pelatihan dalam menempuh proses pelatihan

 

  1. Mengembangkan alat atau instrument penilaian

Berdasarkan tujuan atau kompetensi khusus yang telah dirumuskan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat atau instrument penilaian yang mampu mengukur pencapaian hasil pelatihan pada peserta pelatihan. Hal ini dikenal juga dengan istilah evaluasi hasil pelatihan. Hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam menentukan instrument evaluasi yang akan digunakan adalah instrument harus dapat mengukur performa peserta pelatihan dalam mencapai tujuan pelatihan yang telah dirumuskan.

 

 

  1. Mengembangkan strategi pelatihan

Bentuk strategi pelatihan yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan aktivitas pelatihan yaitu aktivitas pra-pelatihan, penyajian materi pelatihan, dan aktivitas tindak lanjut dari kegiatan pelatihan. Strategi pelatihan yang dipilih untuk digunakan perlu didasarkan pada factor-faktor sebagai berikut:

  • Teori terbaru tentang aktivitas pelatihan
  • Penelitian tentang hasil pelatihan
  • Karakteristik media pelatihan yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pelatihan
  • Materi atau substansi yang perlu dipelajari oleh peserta pelatihan
  • Karakteristik peserta pelatihan yang akan terlibat dalam kegiatan pelatihan

Pemilihan strategi pelatihan yang tepat perlu dilakukan dalam mendesain berbagai aktivitas pelatihan seperti halnya interaksi pelatihan yang berlangsung, dan pelatihan dengan menggunakan media.

 

  1. Penggunaan bahan ajar

Pada tahap ini, perancang program pelatihan dapat menerapkan strategi pelatihan yang telah dirancang dalam tahap sebelumnya ke dalam bahan ajar yang akan digunakan. Istilah bahan ajar sama dengan media pembelajaran, yaitu sesuatu yang dapat membawa informasi dan pesan dari sumber belajar kepada peserta pelatihan. Contoh jenis bahan ajar yang dapat digunakan dalam aktivitas pelatihan yaitu buku teks, buku panduan, modul, program audio video, dan program multimedia.

 

  1. Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif

Evaluasi formatif dilakukan untuk mengumpulkan data yang terkait dengan kekuatan dan kelemahan program pelatihan. Hasil dari evaluasi formatif dapat digunakan sebagai masukan atau input untuk memperbaiki draft program pelatihan.

Tiga jenis evaluasi formatif dapat diaplikasikan untuk mengembangkan produk atau program pelatihan, yaitu:

  • Evaluasi perorangan

Evaluasi ini dilakukan melalui kontak langsung dengan satu atau tiga orang calon pengguna program pelatihan untuk memperoleh masukan tentang ketercernaan dan daya tarik program pelatihan.

  • Evaluasi kelompok

Evaluasi ini dilakukan dengan mengujicobakan program pelatihan terhadap sekelompok calon pengguna program pelatihan yang terdiri dari 10-15 orang calon peserta pelatihan. Evaluasi ini untuk memperoleh masukan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas program pelatihan.

  • Evaluasi lapangan

Evaluasi lapangan adalah ujicoba program pelatihan terhadap sekelompok besar calon pengguna program pelatihan sebelum program pelatihan tersebut digunakan dalam situasi pelatihan yang sesungguhnya.

 

  1. Melakukan revisi terhadap draf program pelatihan

Langkah akhir dari proses desain dan pengembangan adalah melakukan revisi terhadap draft program pelatihan. Data yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh program pelatihan. Prosedur evalauasi formatif perlu dilakukan pada semua aspek program pelatihan dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas program pelatihan tersebut.

 

  1. Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif merupakan jenis evaluasi yang berbeda dengan evaluasi formatif. Jenis evaluasi ini dianggap sebagai puncak dalam aktivitas model desain pelatihan yang dikemukakan oleh Dick dan Carey. Evaluasi sumatif dilakukan setelah program pelatihan selesai dievaluasi secara formatif dan direvisi sesuai dengan standar yang digunakan oleh perancang desain pelatihan. Evaluasi sumatif tidak melibatkan perancang program pelatihan, tetapi melibatkan penilai independen. Hal ini merupakan satu alasan untuk menyatakan bahwa evaluasi sumatif tidak tergolong kedalam proses desain system pelatihan.

 

Kesepuluh langkah desain yang dikemukakan diatas merupakan sebuah prosedur yang menggunakan pendekatan system dalam mendesain sebuah program pelatihan. Setiap langkah dalam desain system pelatihan ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Output yang dihasilkan dari suatu langkah akan digunakan sebagai input bagi langkah yang lain.

 

  1. 2. Model Kemp

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6: Desain pelatihan model Kemp

 

Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar jika ditunjukkan dalam sebuah diagram. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:

  1. Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pelatihan tiap topiknya;
  2. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pelatihan tersebut didesain;
  3. Menetapkan tujuan pelatihan yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
  4. Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
  5. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
  6. Memilih aktivitas pelatihan dan sumber pelatihan yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi peserta pelatihan peserta pelatihan akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
  7. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pelatihan;
  8. Mengevaluasi pelatihan peserta pelatihan dengan syarat mereka menyelesaikan pelatihan serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

 

  1. 3. Model ASSURE


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7: Desain pelatihan model ASSURE

 

Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:

 

 

  1. Analisis Pelajar (Analyze Learners)

Menurut Heinich et al (2005) jika sebuah media pelatihan akan digunakan secara baik dan disesuaikan dengan ciri-ciri oelajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich, 2005 menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai. berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar.

 

  1. Menyatakan Tujuan (States Objectives)

Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pelatihan baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pelatihan akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.

 

  1. Pemilihan Metode, Media dan Bahan (Select Methods, Media, and Material)

Heinich et al. (2005) menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas pelatihan, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.

 

  1. Penggunaan Media dan Bahan (Utilize Media and Materials)

Menurut Heinich et al (2005) terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview bahan, sediabahan, sedikan persekitaran, pelajar dan pengalaman pelatihan.

 

  1. Partisipasi Pelajar di dalam kelas (Require Learner Participation)

Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pelatihan seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.

 

  1. Penilaian dan Revisi (Evaluate and Revise)

Sebuah media pelatihan yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan impak pelatihan. Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pelatihan yang dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan trainer dan penggunaan pelajar.

 

  1. 4. Model ADDIE

Model desain pelatihan yang sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda (2005). Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Berikut adalah gambar desain pelatihan model ADDIE.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8: Desain pelatihan model ADDIE

 

  1. Analisis

Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta pelatihan, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta pelatihan, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.

 

  1. Desain

Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blueprint). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini? Pertama merumuskan tujuan pelatihan yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan pelatihan yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pelatihan yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber pelatihan yang relevan, lingkungan pelatihan yang seperti apa seharusnya, dan lainlain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.

 

 

 

 

  1. Pengembangan

Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pelatihan, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan pelatihan lain yang akan mendukung proses pelatihan semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pelatihan yang sedang kita kembangkan.

 

  1. Implementasi

Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan system pelatihan yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal.

 

  1. Evaluasi

Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pelatihan yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.

 

  1. 5. Model Smith dan Ragan

Desain pelatihan model Smith and Ragan (2003) ini memiliki kecenderungan terhadap implementasi teori pelatihan kognitif. Hampir semua langkah dan prosedur dalam model ini difokuskan pada rancangan tentang strategi pelatihan. Model Smith and Ragan terdiri atas beberapa langkah dan prosedur pokok sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9: Desain pelatihan model Smith dan Ragan

 

  1. Analisis lingkungan pelatihan

Analisis lingkungan pelatihan meliputi prosedur menetapkan kebutuhan akan adanya proses pelatihan dan lingkungan tempat program pelatihan akan diimplementasikan. Tahap analisis dalam model ini digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi masalah-masalah dalam pelatihan.

 

  1. Analisis karakteristik peserta pelatihan

Meliputi aktivitas atau prosedur untuk mengidentifikasi dan menentukan karakteristik pesrta pelatihan yang akan menempuh program pelatihan yang telah didesain. Karakteristik tersebut meliputi kondisi social ekonomi, penguasaan isi materi pelatihan, dan gaya belajar (auditori, visual, dan kinestik).

 

  1. Analisis tugas pembelajaran

Analisis ini merupakan langkah yang dilakukan untuk membuat deskripsi tugas-tugas dan prosedur yang perlu dilakukan oleh individu untuk mencapai tingkat kompetensi tertentu. Juga untuk menetapkan tujuan-tujuan pelatihan spesifik yang perlu dimiliki oleh peserta pelatihan untuk mencapai tingkat kompetensi tersebut.

 

  1. Menulis butir tes

Menulis butir-butir tes dilakukan untuk menilai apakah program pelatihan yang dirancang dapat membantu peserta pelatihan dalam mencapai kompetensi atau tujuan pelatihan yang telah ditetapkan. Butir-butir tes yang ditulis harus bersifat valid dan variable agar dapat digunakan untuk menilai kemampuan atau kompetensi peserta pelatihan dalam mencapai tujuan pelatihan.

 

  1. Menentukan strategi pelatihan

Menentukan strategi pelatihan dilakukan untuk mengelola program pelatihan yang didesain agar dapat membantu peserta pelatihan dalam melakukan proses pelatihan. Dalam konteks ini dapat diartikan sebagai siasat yang perlu dilakukan oleh trainer agar dapat membantu peserta pelatihan dalam mencapai hasil yang optimal.

Contoh penggunaan strategi pelatihan adalah menentukan urutan penyampaian materi pelatihan. Dalam menyajikan materi pelatihan, trainer dapat menggunakan pendekatan deduktif atau induktif.

 

  1. Memproduksi program pelatihan

Memproduksi program pelatihan memiliki makna adanya proses atau aktivitas dalam menerjemahkan desain system pelatihan yang telah dibuat ke dalam bahan ajar atau program pelatihan. Program pelatihan merupakan output dari desain system pelatihan yang mencakup deskripsi tentang kompetensi atau tujuan, metode, media, strategi dan isi atau materi pelatihan, serta evaluasi hasil pelatihan.

 

  1. Melaksanakan evaluasi formatif

Melakukan evaluasi formatif untuk menemukan kelemahan-kelemahan dari draf bahan ajar yang telah dibuat untuk segera direvisi agar menjadi program pelatihan yang efektif, efesien, dan menarik. Evaluasi formatif pada umumnya dilakukan terhadap prototype program pelatihan yang sedang dikembangkan.

 

  1. Merevisi program pelatihan

Merevisi program pelatihan dilakukan terhadap kelemahan-kelemahan yang masih terlihat pada rancangan atau draf program pelatihan. Dengan melakukan revisi, maka program pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi program pelatihan yang berkualitas.

 

Beragam model desain pelatihan telah diciptakan oleh sejumlah pakar yang telah berkecimpung dalam dunia pelatihan. Model-model tersebut telah dikembangkan dan diujicoba secara empiris dalam situasi pelatihan. Para perancang program pelatihan atau instructional designer perlu melakukan kajian tentang model-model desain pelatihan agar dapat menentukan, menerapkan, dan memodifikasi model desain yang sesuai untuk digunakan dalam menciptakan proses dan aktivitas pelatihan.

Model-model desain pelatihan yang dikemukakan pada dasarnya dapat diklasifikasikan berdasarkan pemanfaatan dan output yang dihasilkan, yaitu model desain yang berorientasi terhadap aktivitas pelatihan. Setiap model desain pelatihan memiliki keunggulan dan keterbatasan, sehingga dalam pemilihannya disesuaikan dengan hasil pelatihan yang ingin dicapai.

Share